Ketegaran Cinta Bertakbir - Cerpen Cinta Islami

14 Februari 2009

Seorang sahabatku, Mimi namanya, kami bersahabat puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar (SD). Mimi gadis sederhana, anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja dan akan runtuh hatinya jika memandang senyumnya. Termasuk saya.
(more…)



dalam perjamuan cinta

Penulis : Dr. Taufiq El-Hakim

    "Cinta."Ya. Cinta. Kata itu tiba-tiba terlontar dengan derasnya dari mulut si Gadis bagiakan peluru yang muntah dari selongsong senapan. Sangat cepat, meyakinkan, dan langsung menembus jantung sasaran.
    "Cinta?" kata ketiga lelaki itu serempak, persis seperti ucapan aamiin yang keluar dari mulut orang-orang yang sedang shalat berjamaah.
    "Ketahuilah, cinta sangat penting bagi kalian semua. Cinta sangat penting bagi seorang wartawan. Anda, hai Wartawan, apa anda akan membantah bahwa berita paling menghebohkan di abad keduapuluh adalah cinta Raja Inggris kepada Lady Simpson, cinta yang membuatnya harus turun dari singgasana kerajaannya? Anda, wahai Penyair, apa Anda hendak membantah bahwa cintalah yang menyebabkan terjadinya Perang Troya dan memberi inspirasi Homerus untuk membuat syair perang yang selalu dikenang sepanjang zaman? Anda, wahai Musisi, apa Anda hendak membantah kenyataan bahwa sejak ditemukannya seruling dan biola, maka keduanya tak pernah berhenti menyenandungkan lagu cinta?"kata si Gadis.
    "Ya.Kau benar!"
    Si Gadis terdiam sejenak, diam kemenangan. Sementara ketiga lelaki di depannya hanya bisa terpaku. Namun tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu serempak bertanya,
    "Dan bagaimana dengan kamu?"
    "Aku!?" kata si Gadis gugup dan bingung. Apakah mereka sudah gila?
    Seorang perempuan seperti dirinya yang sudah mengerti tentang cinta masih perlu ditanya lagi tentang kepentingannya terhadap cinta? Sesaat si Gadis menenangkan diri kemudian berkata,
"Cinta? Aku tidak tahu apa arti cinta? Hai Wartawan, dan kau, wahai Penyair dan Musisi, coba katakan padaku tentang arti cinta? Siapa yang bisa memberikan jawaban yang tepat untukku, dialah yang bisa menjadi kekasihku!"
    Si Gadis menundukkan kepalanya untuk bersiap mendengar pendapat mereka tentang arti cinta. Sementara ketiga lelaki itu berebut untuk berpendapat terlebih dulu, demi meraih anugerah terbesar; menjadi kekasih idaman hati si Gadis.



Sandal Jepit Isteriku

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

"Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

*******

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah…wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…" Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

********

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?" pinta isteriku. "Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu…?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

*******

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek…," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

"Maryam…!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

"Abi…!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

******

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu…," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)



Abul


NR. Ina Huda

Tiba-tiba berita kematian Abul menggegerkan seisi kampung. Bahkan membuatku jadi terguncang. Abul adalah tokoh yang paling populer di kampung kami. Bukan, bukan karena dia orang penting, tokoh masyarakat ataupun selebritis. Tetapi sosoknya dikenal dan disukai hampir seisi kampung justru karena cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya.
Dia bukanlah orang yang menarik dari segi penampilan. Tubuhnya kurus kecil, rambutnya merah kering dan mukanya tirus agak kepucat-pucatan. Tetapi tingkahnya selalu membuat orang senang. Dia suka sekali berkeliling kampung dan berhenti bila ada sekelompok orang, lalu dia akan bercerita dengan semangat tentang segala hal. Lebih sering yang menyangkut agama. Bukan berdakwah, tapi bahkan sering kali agak melecehkan sikap orang-orang yang sok agamis. Dia tidur di musala karena tak seorang pun tahu di mana sebenarnya rumahnya. Dia rajin membersihkan musala bahkan seringkali menjadi muazin bila waktu menunaikan salat tiba.
Aku ingat Abul pernah bercerita padaku tentang Badrun, tokoh yang entah datang dari mana.
"Badrun ini jagonya judi," begitu dia membuka cerita. "Tak pernah sehari pun dia lewatkan tanpa berjudi. Judi apa saja. Dari menyabung ayam, klitikan pakai dadu, sampai keplek. Dan selalu, tentu saja seperti juga orang lain yang senang berjudi, dia tak pernah menang."
"Dia punya kerjaan nggak?" tanyaku.
"Kerjanya ya judi itu," sahut Abul.
"Lantas, dari mana dia dapat uang?"
"Dari meminta istrinya yang guru SD, atau orang tuanya, atau sekedar memalak teman-temannya."
Kami yang mendengarkan jadi mencibir.
"Suatu kali, dia menipu istrinya. Sepeda yang biasa dipakai istrinya berangkat kerja, dipinjamnya. Katanya dia hendak mencari kerja ke pabrik. Tentu saja si istri tak keberatan. Dia berpikir, mungkin bila Badrun benar-benar mendapatkan pekerjaan, dia akan punya kesibukan dan berhenti berjudi. Karena itu, dia rela meminjamkan sepedanya dan berangkat naik angkutan umum. Tetapi ternyata seharian Badrun tak pulang. Istrinya mulai cemas. Lalu ketika malam harinya dia pulang, si istri menyambutnya dengan perasaan was-was. Dia melihat muka Badrun lecek, pakaiannya kotor bahkan sobek di sana-sini. Si istri berkata, ‘Ada apa denganmu?’ dan Badrun menunduk dengan muka sedih. ‘Sudah kamu dapatkan pekerjaan?’ Badrun menggeleng. ‘Lalu kenapa pakaianmu amburadul begitu?’ Badrun menatap istrinya dengan prihatin, lalu katanya, ‘Aku berkelahi dengan maling.’ Si istri tentu saja terkejut. Dan Badrun pun bercerita. Dia baru saja keluar dari pabrik tekstil setelah menemui bagian personalia untuk melamar menjadi buruh. Tiba-tiba dia melihat seorang maling sedang berusaha mencuri sepedanya di tempat parkir yang kebetulan agak sepi dan tak dijaga oleh Satpam. Tentu saja Badrun bereaksi. Ia mendekati maling itu, tetapi sang maling tiba-tiba memukulnya, Badrun membalas dan jadilah mereka berkelahi. Celakanya Badrun kalah, dan sang maling berhasil membawa kabur sepedanya."
"Si istri memandang beberapa saat. Sorot matanya tidak menunjukkan bahwa dia percaya, namun juga tak menunjukkan dia curiga. Badrun menggenggam tangannya dan meminta maaf karena telah membuat istrinya kehilangan benda yang sesungguhnya sangat dibutuhkan. Tetapi karena si istri itu orang yang baik, dia segera memaafkan suaminya dan berkata lain kali dia harus lebih hati-hati."
"Dan sepedanya benar-benar hilang?" tanyaku penasaran.
Abul tersenyum. "Tentu saja tidak. Badrun itu pembohong besar. Yang pasti sepeda itu telah dijualnya dan uangnya habis di meja judi."
"Ooo."
"Suatu kali istri Badrun merasa putus asa menghadapi tingkah suaminya. Dia pergi ke rumah seorang kiai dan mencurahkan keluh kesahnya di sana. Sang kiai menasihati, ‘Suruhlah Badrun mengenal Al-Quran supaya dia tahu hidup seperti apa yang seharusnya dijalani.’ Si istri menyampaikan hal itu pada Badrun. Badrun termangu-mangu, lalu berkata; ‘Aku, aku pun sebenarnya ingin bertobat. Barangkali benar ucapan Pak Kiai itu. Berilah aku uang, aku akan membeli Al-Quran, membacanya, memahami maknanya dan mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan kebaikan buatku.’
"Karena Badrun mengatakan itu dengan serius dan khusyuk, si istri memberinya uang. Maka berangkatlah Badrun membeli Al- Quran. Tetapi di tengah jalan, tiba-tiba uang itu terjatuh dari saku celananya yang bolong. Badrun kebingungan. Dia kembali dan berkata pada istrinya, ‘Barangkali Tuhan belum mengizinkan aku bertobat. Uang itu hilang.’ Setelah itu Badrun kembali ke kebiasaannya, berjudi."
Kami yang mendengarkan semua terdiam. Tetapi Abul tak berkata-kata lagi. Dia ngeloyor begitu saja meninggalkan kami.
Malamnya, aku mencoba merenungkan cerita Abul. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa taubat itu datangnya dari nurani yang bersangkutan, bukan dipaksakan. Bila orang telah menemukan jalan taubatnya, apa pun akan dilakukan dan Tuhan akan memberinya petunjuk. Bukan taubat yang disuruh-suruh dan akhirnya mencari berbagai alasan untuk membenarkan diri sendiri.
Suatu ketika Abul juga membuat orang-orang kampung tercenung. Saat suasana sedang ramai-ramainya karena warga kampung tengah memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Ketika sedang istirahat setelah mendengarkan uraian Pak Kiai tentang makna peringatan itu, tiba-tiba seekor anjing besar lewat, dan berhenti di dekat orang-orang yang duduk di emperen musala. Mula-mula mereka tak menggubris. Tetapi ketika anjing itu menyalak dan menjulurkan lidahnya, beberapa wanita mulai ketakutan. Bukan apa-apa, anjing itu anjing liar dan dikuatirkan membawa rabies. Karena itu para wanita segera membaca ayat yang bunyinya; Summum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun…. Tetapi anjing itu tetap saja menggonggong. Tiba-tiba Abul muncul. Dia mengucapkan ayat di atas keras-keras sambil tangannya meraih batu dan melemparkannya ke arah si anjing. Karuan saja anjing itu lari lintang-pukang. Dengan santainya Abul berkata, "Adakalanya doa saja tidak manjur. Seringkali doa harus dibarengi dengan usaha."
Begitu sederhana kalimat itu, tetapi membuat kami semua tercenung. Dan kemudian semua menyetujui ucapan Abul.
Abul adalah lelaki sederhana, yang setiap hari berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya mengobral cerita. Tetapi selalu saja orang-orang menyukainya karena cerita-ceritanya senantiasa mengandung makna yang dalam.
"Kenapa kamu tak bekerja saja?" tanyaku suatu hari.
"Jangan dikira saya tidak bekerja, Mas," sahutnya. "Saya masih sehat, dan kuat. Saya sering ngetem di pasar dan membantu ibu-ibu dengan membawakan belanjaan mereka, dan untuk itu saya mendapat upah. Yah, jadi kuli bongkok. Kalau pun saya senang berkeliling untuk bercerita, itu hanyalah salah satu cara saya mengisi waktu. Saya kan orang bodoh, sekolah pun cuma tamat SD, jadi hanya pekerjaan kasarlah yang bisa saya lakukan."
Aku tersenyum sambil menatapnya.
"Ada sebuah cerita. Mas mau mendengarkan?"
Aku cepat-cepat mengangguk.
"Suatu ketika ada seorang yang cacat kakinya karena suatu kecelakaan dan tak bisa lagi bekerja. Seorang sahabatnya lewat dan menegurnya, ‘Mengapa kamu tidak bekerja? Bagaimana kamu bisa makan bila kamu tak bekerja?’ Orang itu menjawab, ‘Allah Maha Pemurah. Aku tak pernah takut tidak mendapat rezeki-Nya.’ Saat itu melintas di atas mereka seekor burung yang terbang dengan membawa makanan. Kedua orang itu memandanginya hingga di suatu tempat tiba-tiba burung itu menjatuhkan makanannya ke bawah. ketika mereka menengok ke arah bawah, mereka melihat seekor burung lain yang patah sayapnya dan tak bisa terbang. Rupayanya burung yang di atas itu mencarikan makanan buat temannya yang cedera. ‘Lihatlah,’ kata orang itu, ‘bahkan burung kecil yang tak bisa terbang pun tetap bisa makan.’ Si sahabat berkata’ memang benar, burung itu tetap bisa makan meski tak bisa terbang mencari sendiri makanan. Akan tetapi burung yang di atas pasti lebih mulia karena bisa terbang dan mencarikan makanan untuk temannya."
Aku kagum pada cerita Abu. Tetapi Abul sendiri bersikap santai.
"Karena itu, aku harus tetap bekerja untuk mencari rezeki Allah. Aku tidak mau menjadi burung yang hanya bisa menggelepar menanti ada yang membari makanan."
Beberapa hari belakangan ini Abul tidak muncul. Orang-orang di kampung menduga-duga apa yang telah terjadi padanya. Pak Sanu, Ketua RT kami menduga mungkin Abul sedang pulang ke desa asalnya entah di mana itu. Yang lain berpikir Abul sedang berkeliling di kampung lain yang letaknya cukup jauh. Tetapi di atas semua itu, sesungguhnya kami merasa cemas. Entah mengapa Abul telah menjadi bagian dari kami. Abul seperti sesuatu yang telah menyatu dengan jiwa kami sehingga terasa ada yang kurang bila ia tiba-tiba tak muncul.
Aku sendiri mencoba mencarinya di pasar, di tempat dia biasa ngetem. Tetapi ibu-ibu yang selama ini menerima jasanya pun pada kehilangan.
"Abul itu orangnya baik. Diberi berapa pun tak pernah mengeluh," kata salah seorang ibu.
"Betul. Bahkan saya pernah memberinya cuma tiga ratus perak karena cuma segitu uang sisa belanja saya. Padahal belanjaan saya segunung. Dan dia mengeluarkan banyak keringat untuk membawakannya. Tetapi dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih," timpal ibu yang lain.
Aku semakin merasa kehilangan. Sosok Abul yang kurus kering dengan rambut merah dan muka pucatnya semakin nyata mengganggu perasaan kehilanganku. Abul memang bukan siapa-siapa. Dia bukan pejabat, tokoh masyarakat atau selebritis. Tetapi kehadirannya melebihi mereka di dalam satu sudut hatiku. Karena lewat Abul aku telah memperolah banyak pelajaran. Abul, di manakah kamu?
Genap satu minggu sejak ketidakmunculannya, ketika tiba-tiba kudengar berita yang mengejutkan. Abul meninggal dunia!
Berita itu sontak menggegerkan kampung kami. Semua hampir tidak mempercayainya, tetapi Somad, salah seorang tetangga kami yang membawa berita itu, mencoba meyakinkan.
"Benar, aku yakin orang itu Abul. Aku mengenalnya dengan baik."
"Bagaimana dia meninggal?" tanyaku penasaran.
"Kebetulan tadi aku sedang beristirahat di mushola kampung Jetayu. Hari-hari belakangan ini Abul memang berada di kampung itu. Aku baru pulang dari rumah Agus sehabis menjual ayam. Di musholla itu kulihat orang-orang tiba-tiba berkerumun di sumur. Karena penasaran aku ikut melihat. Apa yang terjadi?" Somad memandang kami satu persatu. Kami semua menggeleng dengan penuh rasa cemas.
"Abul sudah tergeletak di sana. Kepalanya berdarah."
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Pak RT dengan terkejut.
"Kata orang-orang di sana, dia terpeleset ketika sedang menimba. Abul menimba air untuk mengisi bak di kamar mandi musholla itu."
Abul meninggal karena terpeleset di sumur ketika sedang menimba air? Betapa sederhananya kematiannya.
"Mungkin geger otak," kata Somad lagi.
"Apakah tidak ada yang mencoba menolongnya?" tanya Umar.
"Orang-orang membawanya ke Puskesmas terdekat, tetapi nyawanya tidak tertolong. Kepalanya memar dan dia banyak mengeluarkan darah."
Orang-orang tertunduk. Aku sendiri tak menyadari airmataku tiba-tiba menetes. Tetapi aku tak ingin menghapusnya. Tak perlu malu. Abul adalah bagian dari kehidupan kami. Abul adalah sosok yang tanpa disadarinya telah banyak membawa kesadaran di hati kami. Kesadaran akan hidup dan makna kehidupan. Abul begitu berharga bagi kami. Tetapi Allah telah memangilnya, dengan cara yang begitu sederhana. Sesederhana pikiran-pikiran Abul, cerita-cerita Abul, namun senantiasa mengandung makna yang dalam.
Atas kesepakatan bersama, jenazah Abul dikuburkan di kampung kami, dan kami semua mendoakan kepergiannya dengan tulus.
Ketika meninggalkan makam Abul, aku ingat kata-katanya tentang kematian, "Seperti pintu yang terbuka setiap waktu, dan semua orang harus melewatinya. Tetapi hanya orang-orang yang dicintai Allah yang merasakan kematian sebagai perjalanan yang indah menuju keabadian."

sumber : Annida




Pada Sebuah Karnaval


 Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval, Eid karnaval tepatnya,yang diselenggarakan oleh salah satu masjid di South-bay sini.

Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada juga stand-stand, dan tentu saja…mmm,makanan. Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan barbeque pakistani-nya.

Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep bakso-nya uni Lila danserba-serbi indomie-nya ummu Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali ya makan bakso pedes. Wah, maaf nih keterusan. Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan cerita yang ingin saya tuliskan.

Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi kakak-kakaknya naik merry-go-arround [waktu saya bocah dulu, di kampung saya namanya korselatawa komedi putar], tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik mendekat dan duduk tepat di sebelah.

“Ah sukurlah bukan orang Arab.” ujarnya sambil menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di kepalanya yang mencong-mencong.

“Assalamu’alaikum, sister. Apa kabar ?” tanya saya mencoba menyapa denganramah.

“Alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari mana sister ?”

“ Indonesia,” jawab saya.

“ Di mana itu ya?” tanyanya,”sebelah mananya negara arab?”Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih tahu kalau Indonesiaitu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak percaya.

“Kok tidak pernah kedengaran ya.” komentarnya. Nah kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga rasanya. Kita, muslimin Indonesia yang ratusanjuta jumlahnya seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum penebarrahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.

Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat memalukan.

“Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi.” kata saya sembarime mandang wajah arab yang cantik ini, putih kemerahan warna kulitnya.Sayang, ada gelisah di matanya.

“Anda sendiri dari mana ?” tanya saya. Dia sebutkan negara asalnya.

“Anda tahu di mana itu ?” tanya sister itu.

“Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan…” saya sebutkan beberapanegara lain yang berbatasan dengan negerinya itu serta produk terkenal yangdihasilkan negaranya.

“Anda tahu semua itu ?” tanyanya heran. Saya tersenyum.

“Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa anda pakai hijab ?”tanya nya tiba-tiba. Belum sempat saya jawab, sister ini buru-burumelanjutkan.

“Actually…, hijab ini bagi saya adalah beban. Itu sebabnya saya tidak maukembali ke negara asal saya, tidak bebas, di sini saya bebas. ..”

“Mengapa anda berpikir begitu ?” tanya saya.

“Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan pakai hijab oleh negara.Tidak ada kebebasan bagi wanita…tapi di sini saya bisa berbuat apa saja.Oh ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau ada acarakhusus…sebenarnya saya juga tidak suka bertemu orang arab, mengingatkansaya pada kebodohan dan kekasaran saja…”

“Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?” tanya saya.

“Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah. Saya sudah citizen di sini sekarang…”ujarnya dengan nada bangga.” Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punyapekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin.” lanjutnya.

“Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?” tanya saya, penasaran mengamati matalentiknya yang resah.

“Ah jangan begitulah…” ujarnya seraya membuang pandangan jauh kedepan.Dihelanya nafas panjang.

“Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan setia, maksudku…yah sewaktu-waktu ganti pasangan…atau punya kencan lain…atau tak perlu kawinlah…bikin bengkak beban tax saja…ya memang kadang saya masih ketemu dia…”

“ Bukan soal itu,” kali ini saya yang memotong.

“Maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda inginkan … apakah anda masih akan terus menghindar dari bangsa anda ?”

“Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah, makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti dikatakan orang sini teroris lagi ….saya malu kalau orang-orang tahu saya ini muslim.”jelasnya.

Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya datang memohon, “Please, jangan ledakkan rumah saya.” Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang Arab atau orang Islam di negeri ini.

“Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab.” sister itumengingatkan.

“Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami berhijab karena kesadaran.Pada mulanya ini pilihan yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena berhijab.Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam semakin tumbuh subur. Jadisangat ironi dengan apa yang terjadi pada diri anda…”

“ Hey, bukankah negara anda muslim terbesar…?”

“Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah…begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan.” Entah mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya. Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.

“Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?” tanyanya lagi.

“Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena kesadaran sebagai muslimah,” jawab saya.

“Apa maksudmu ? saya juga muslimah.” sanggahnya.

“Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? “ saya balik bertanya.

“Anda membingungkan.” jawabnya.

“Lihatlah ini.” jawab saya sembaring menyodorkan Qur’an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab di surat al Ahzab.

“Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?” tanyanya.

“Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?”

“Mmm, no.” jawabnya ragu. Saya jadi berpikir jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur’an di rumahnya.

“Anda boleh menyimpannya.” lanjut saya. Ia nampak ragu. “Maaf Qur’an ini memang sudah lusuh. Maklumlah saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda punya yang baru…” saya berusaha meyakinkannya.

“Astaga..selama itu anda menyimpannya ?” tukasnya. Saya tersenyum.

Yah dia teman saya saat sendirian. Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.

Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al Qur’an.” ujar saya. “ Anda tahu, Kebebasan bagi saya adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban seperti yang anda rasakan.”

Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Si sulung dan sinomor dua datang sambil berlari-lari kecil.

“ Is it ashr time ?” tanya si sulung. Saya jawab insya Allah sebentar lagi.

“Ok,” jawab si sulung. “ Let’s wudu” ajaknya kepada adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang. Walau kadang bandel, syukurlah kalau soalshalat mereka sangat cinta.

“Mereka anakmu juga?” tanya sister itu lagi.

“Ya” jawabku.

“Berapa umurnya ?”

“Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil ini dua bulan lagi tepat 2 tahun.” jawab saya.

Sister itu terdiam.

“Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di negara arab ?” tanyanya tiba-tiba.

“Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang sesungguhnya. Berjuanguntuk menegakkan nilai-nilai Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung anda” jawab saya.

“Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya…”

Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.

“Saya harus pulang.” tuturnya. Dia melangkah perlahan, kali ini tidaktergesa seperti tadi. Saya berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat. Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,

“Sesungguhnya tugas terberat kami adalah ….mengislamkan orang-orang Arab sendiri.”

Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.

Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang sebenarnya tidak jauhberbeda. Jalan ini masih amat panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian terasa seakan menggenggam bara. Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval, sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.

Wa Islama….wa islama…, wahai Islam…wahai Islam, begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh hargadiri jika umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?

Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?

Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anakcucu kami ke alam kebebasan,….bebas mencintai tuhannya.