Karena Iman

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah menjadi tua, ia berkata kepada raja : "Wahai raja , saya telah tua, untuk itu kirimkanlah kepada saya seorang anak untuk mempelajari ilmu sihir agar nanti bisa menjadi pengganti saya bila saya meninggal." Lalu raja memilih anak (Ghulam) untuk mempelajari ilmu sihir, dan adalah jalan yang dilalui oleh Ghulam ke rumah tukang sihir terdapat Rahib (pendeta). Ghulam tertarik dengan Rahib itu, hingga ia duduk untuk mendengarkan ajaran-ajarannya dan ia merasa puas. Maka ia selalu terlambat untuk belajar pada tukang sihir, lalu ia dipukulinya. Kemudian ia mengadu kepada Rahib, lalu Rahib berkata: "Kalau kamu dipukul tukang sihir, katakan kepadanya bahwa kamu masih disuruh ibumu, dan kalau kamu dimarahi oleh ibumu katakan kepadanya bahwa kamu ditahan oleh tukang sihir, maka hal itu berjalan dengan baik." 

Pada suatu hari di jalan raya terdapat ular yang sangat besar, hingga jalan menjadi macet dan orang-orang sama ketakutan, lalu Ghulam maju sambil berkata : "Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihirkah yang lebih besar ajarannya ataukah sang Rahib, lalu ia mengambil batu dan melemparkan ular itu seraya berkata : "Ya Allah, jika ajaran Rahib yang benar daripada ajaran tukang sihir, maka matikanlah ular ini supaya orang-orang bisa berjalan dengan aman." Maka ular itupun mati dan orang-orang bisa meneruskan perjalanannya. Hal itu ia ceritakan kepada Rahib, lalu Rahib berkata : "Wahai anakku, kini kamu lebih hebat daripadaku, dan kamu akan mendapat ujian yang sangat berat, maka jika hal itu telah datang, kamu jangan sekali-kali menyebut nama saya." 

Ghulam mendapat karunia dari Allah hingga ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti buta, belang dan lain-lainnya. Salah seorang kawan raja ada yang buta dan ia telah berobat ke mana saja tetap belum juga sembuh, lalu dia datang kepada Ghulam dengan membawa hadiah-hadiah yang banyak, ia berkata : "Jika kamu dapat menyembuhkan, maka seluruh permintaanmu akan kami penuhi." Ghulam menjawab : "Saya tidak dapat menyembuhkan, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah, kalau tuan mau beriman kepada Allah, maka saya akan berdo’a untuk kesembuhan tuan." Lalu ia beriman kepada Allah, setelah Ghulam berdo’a kepada Allah, seketika itu juga mata orang itu menjadi sembuh. 

Kemudian orang itu mendatangi raja, lalu kagum kepadanya seraya bertanya : "Siapakah yang telah menyembuhkan matamu?" Ia menjawab : "Tuhanku." Raja bertanya : "Adakah Tuhan selain aku ?" Ia menjawab : "Tuhanku dan tuhan raja adalah Allah." Lalu raja memaksa ia meninggalkan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi ia menolak. Maka raja menyiksanya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukan bahwa yang telah menyembuhkan matanya adalah Ghulam. Kemudian raja memanggil Ghulam, lalu berkata kepadanya : "Wahai anakku, sihirmu telah melampaui batas hingga dapat menyembuhkan penyakit buta dan belang." Ia menjawab : "Saya tidak dapat menyembuhkan apa-apa, sesungguhnya yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah." Maka raja menyiksa dan terus menyiksa hingga ia terpaksa menunjukkan sang Rahib, lalu raja memanggil Rahib dan memerintahkan kepadanya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak. Dan akhirnya Rahib digergaji hingga badannya belah menjadi dua. 

Lalu raja memerintahkan kepada orang yang telah sembuh dari butannya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak, maka iapun akhirnya digergaji seperti sang Rahib, kemudian giliran Ghulam diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, tetapi iapun menolak, lalu raja memerintah tentara-tentaranya untuk membawa Ghulam keatas bukit dan kalau tetap menolak supaya dilemparkan. Lalu mereka berangkat dan ketika sampai di atas bukit Ghulam berdo’a : "Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini." Tiba-tiba bukit ini bergoncang dan tentara-tentara itu jatuh dari atas bukit, mereka mati. Maka Ghulam berangkat menghadap raja, lalu ia ditanya oleh raja : "Kemana tentara-tentara yang tadi bersamamu ?" Ia menjawab : "Allah telah menyelamatkan saya dari kejahatan mereka." Lalu raja memerintahkan beberapa tentara lainnya untuk membawa Ghulam ke tengah laut dan bila masih tetap menolak untuk dilemparkan ketengah laut. Lalu mereka berangkat dan setelah mereka sampai di tengah laut, Ghulam berdo’a : "Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini." 

Tiba-tiba datanglah ombak besar hingga perahu terbalik dan mereka tenggelam semuanya, lalu Ghulam kembali menghadap raja, dan ia ditanya : "Kemana tentara-tentara yang membawamu tadi ?" Ia menjawab : "Allah telah melindungi kami dari kejahatan mereka, wahai raja engkau tidak akan bisa membunuh saya melainkan bila raja mau menuruti perintah saya." Lalu raja bertanya : "Apa perintahmu itu ? Ia menjawab : "Kumpulkan semua rakyat di alun-alun lalu salib saya pada sebuah tiang dan ambilah panahku. Kemudian panahlah aku sambil mengucapkan : Bismillahir Rabbil Ghulam (dengan nama Allah Tuhannya Ghulam), bila itu engkau lakukan maka engkau dapat membunuhku." 

Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyatnya di alun-alan, lalu ia menyalib Ghulam pada sebuah tiang. Kemudian ia memanahnya dengan panah Ghulam sambil membaca : Bismillahir Rabbil Ghulam, maka panah itu mengenai pelipis Ghulam dan mengucurkan darah segar dari pelipisnya. Lalu ia meletakkan tangannya di atas luka-lukanya, hingga ia mati. Tiba-tiba rakyat yang menyaksikan kejadian itu serentak mengucapkan : Amanna bi Rabbil Ghulam (kami beriman kepada Tuhannya Ghulam), sehingga kepercayaan kepada Allah merata kepada semua lapisan rakyat. Maka seorang pembantu raja berkata kepada raja : "Sesuatu yang tuan takuti kini benar-benar telah menjadi kenyataan, semua rakyat tuan telah beriman kepada Tuhannya Ghulam." Maka segeralah raja memerintahkan untuk membuat parit besar pada setiap persimpangan jalan, lalu dinyalakan api di dalamnya. Kemudian raja memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk melemparkan ke dalam api tersebut siapa saja yang telah beriman kepada Tuhannya Ghulam. Maka diantara orang yang telah beriman yang dibakar itu terdapat seorang ibu yang menggendong bayi, ketika ia mau masuk ke dalam api itu ia menjadi maju mundur karena tak tega anaknya ikut terbakar, dalam keadaan itu tiba-tiba bayi itu dapat berbicara (menasehati ibunya) : "Wahai ibu, bersabarlah engkau karena engkau berada di pihak yang benar." 

Sumber :1001 KISAH NYATA, Achmad Sunarto



Pada Sebuah Karnaval


 Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri karnaval, Eid karnaval tepatnya,yang diselenggarakan oleh salah satu masjid di South-bay sini.

Lazimnya sebuah karnaval, tentunya meriah dengan macam-macam fun-ride untuk anak-anak, cotton-candy,ada juga stand-stand, dan tentu saja…mmm,makanan. Menu yang disajikan kali ini kebanyakan ala pakistan dan afganistan. Jadilah saya nyicip briyani dan barbeque pakistani-nya.

Eh kok jadi cerita soal makanan. Membaca resep bakso-nya uni Lila danserba-serbi indomie-nya ummu Itqon jadi laper deh. Dingin-dingin begini asik kali ya makan bakso pedes. Wah, maaf nih keterusan. Soal makanan tadi, ini memang ada hubungannya dengan cerita yang ingin saya tuliskan.

Tengah asik menyuapi si kecil sambil mengawasi kakak-kakaknya naik merry-go-arround [waktu saya bocah dulu, di kampung saya namanya korselatawa komedi putar], tiba-tiba seorang sister melintas tergesa di hadapan saya. Tadinya sih mau lewat begitu saja, tapi ketika melihat wajah saya, dia lantas berbalik mendekat dan duduk tepat di sebelah.

“Ah sukurlah bukan orang Arab.” ujarnya sambil menghela nafas seraya menarik sedikit kerudung di kepalanya yang mencong-mencong.

“Assalamu’alaikum, sister. Apa kabar ?” tanya saya mencoba menyapa denganramah.

“Alaikum salam. yah baik-baik saja. Anda berasal dari mana sister ?”

“ Indonesia,” jawab saya.

“ Di mana itu ya?” tanyanya,”sebelah mananya negara arab?”Ah tipikal. Hampir semua orang di lingkungan muslim pun tidak tahu di mana itu Indonesia, atau barangkali tidak tahu apakah itu nama negara atauhkah jenis makanan. Saya jelaskan sedikit sekalian ngasih tahu kalau Indonesiaitu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dia cuma bengong seperti tak percaya.

“Kok tidak pernah kedengaran ya.” komentarnya. Nah kalau sudah begini, selain mangkel, sedih juga rasanya. Kita, muslimin Indonesia yang ratusanjuta jumlahnya seperti tak pernah kedengaran perannya sebagai kaum penebarrahmat. Bukan sekali dua kalau bertemu sisters mancanegara di sini, mereka tidak tahu Indonesia apalagi perannya sebagai pembela ummat Islam.

Bagaimana tidak mengherankan, kalau di negeri sendiri saja ummat Islam sudah dipecundangi dengan sangat memalukan.

“Mungkin anda saja yang lupa pelajaran geografi.” kata saya sembarime mandang wajah arab yang cantik ini, putih kemerahan warna kulitnya.Sayang, ada gelisah di matanya.

“Anda sendiri dari mana ?” tanya saya. Dia sebutkan negara asalnya.

“Anda tahu di mana itu ?” tanya sister itu.

“Oh tentu saja. Salah satu negara Arab dan…” saya sebutkan beberapanegara lain yang berbatasan dengan negerinya itu serta produk terkenal yangdihasilkan negaranya.

“Anda tahu semua itu ?” tanyanya heran. Saya tersenyum.

“Maaf,no offense, anda kan bukan orang arab, kenapa anda pakai hijab ?”tanya nya tiba-tiba. Belum sempat saya jawab, sister ini buru-burumelanjutkan.

“Actually…, hijab ini bagi saya adalah beban. Itu sebabnya saya tidak maukembali ke negara asal saya, tidak bebas, di sini saya bebas. ..”

“Mengapa anda berpikir begitu ?” tanya saya.

“Yah anda tahu kan, kami di negara arab diwajibkan pakai hijab oleh negara.Tidak ada kebebasan bagi wanita…tapi di sini saya bisa berbuat apa saja.Oh ya saya pakai hijab begini sewaktu-waktu saja, kalau ada acarakhusus…sebenarnya saya juga tidak suka bertemu orang arab, mengingatkansaya pada kebodohan dan kekasaran saja…”

“Lalu bagaimana anda bisa sampai ke US ?” tanya saya.

“Waktu itu ada program pertukaran pelajar keperawatan dan saya termasuk yang dikirim kesini. Setelah program selesai, saya bertekad untuk tidak kembali. Saya sudah bulat hidup mati di sini. Tapi saya butuh pegangan supaya bisa tinggal di sini kan ? Karena itulah lantas saya kawin dengan orang Bule. Status saya berubah. Saya sudah citizen di sini sekarang…”ujarnya dengan nada bangga.” Saya tidak harus pakai hijab. Saya bisa punyapekerjaan yang baik. Masa depan saya terjamin.” lanjutnya.

“Jadi anda bahagia sekarang ini ya ?” tanya saya, penasaran mengamati matalentiknya yang resah.

“Ah jangan begitulah…” ujarnya seraya membuang pandangan jauh kedepan.Dihelanya nafas panjang.

“Anda tanya soal perkawinan saya kan ? Anda tahu sendiri, orang di sini pagi kawin, sore bisa cerai lagi. Atau kalaupun kawin tidak ada jaminan bakalan setia, maksudku…yah sewaktu-waktu ganti pasangan…atau punya kencan lain…atau tak perlu kawinlah…bikin bengkak beban tax saja…ya memang kadang saya masih ketemu dia…”

“ Bukan soal itu,” kali ini saya yang memotong.

“Maksud saya anda sudah peroleh kebebasan yang anda inginkan … apakah anda masih akan terus menghindar dari bangsa anda ?”

“Memang begitu. Kadang saya ingin datang juga ke perayaan muslim macam Ied ini, sekadar datanglah, makan-minum, ketemu menu yang cocok di lidah. Tapi saya memang nggak nyaman deket-deket orang arab. Nanti dikatakan orang sini teroris lagi ….saya malu kalau orang-orang tahu saya ini muslim.”jelasnya.

Saya jadi teringat cerita seorang teman dari Mesir sewaktu baru pindah rumah. Tiba-tiba saja tetangganya datang memohon, “Please, jangan ledakkan rumah saya.” Astagfirullah. begitu buruknya gambaran tentang orang Arab atau orang Islam di negeri ini.

“Eh anda belum jawab pertanyaan saya tadi soal hijab.” sister itumengingatkan.

“Negara kami tidak pernah mewajibkan hijab. Kami berhijab karena kesadaran.Pada mulanya ini pilihan yang sangat sulit. Sebagian dari kami telah kehilangan pekerjaan bahkan kesempatan untuk sekolah karena berhijab.Sebagian lagi mengalami cacat seumur hidup akibat penyiksaan karena memakai hijab. Belum lagi hinaan dan cemoohan. Tapi muslimah di sana tegar dengan pilihannya. Semakin ditekan, kesadaran berislam semakin tumbuh subur. Jadisangat ironi dengan apa yang terjadi pada diri anda…”

“ Hey, bukankah negara anda muslim terbesar…?”

“Memang benar. Sebagian dari kami percaya bahwa pemerintah sangat toleran dengan kaum non muslim. Demi toleransi ini, kalau perlu mayoritas mengalah…begitulah kira-kira, selain banyak lagi masalah lain yang rumit yang tidak bisa anda bayangkan.” Entah mengapa masih saja ada pembelaan dalam jawaban saya. Seburuk-buruknya negeri kita, rasanya masih saja tak rela untuk menyebutnya di depan bangsa lain.

“Jadi kalau negaramu tidak mengharuskan, kenapa kamu mau pakai hijab ? bodoh sekali bukan ?” tanyanya lagi.

“Seperti saya katakan tadi, kami melakukannya karena kesadaran sebagai muslimah,” jawab saya.

“Apa maksudmu ? saya juga muslimah.” sanggahnya.

“Tahukah anda bahwa tanpa diwajibkan oleh negara anda sekalipun, kewajiban berhijab itu tetap ada ? “ saya balik bertanya.

“Anda membingungkan.” jawabnya.

“Lihatlah ini.” jawab saya sembaring menyodorkan Qur’an saku padanya. Saya bukakan ayat tentang hijab di surat al Ahzab.

“Maksudmu kewajiban itu adalah perintah Tuhan ..?” tanyanya.

“Tidakkah anda tahu ? atau pernah membacanya ?”

“Mmm, no.” jawabnya ragu. Saya jadi berpikir jangan-jangan sister ini bahkan tidak punya qur’an di rumahnya.

“Anda boleh menyimpannya.” lanjut saya. Ia nampak ragu. “Maaf Qur’an ini memang sudah lusuh. Maklumlah saya memilikinya sejak lebih dari 13 tahun lalu waktu masuk universitas. Setidaknya simpanlah, sampai anda punya yang baru…” saya berusaha meyakinkannya.

“Astaga..selama itu anda menyimpannya ?” tukasnya. Saya tersenyum.

Yah dia teman saya saat sendirian. Hanya saja saya agak kesulitan menghafalnya, mungkin karena tidak mengerti bahasanya. Karenanya saya selalu membawanya untuk membaca dan mengingat perintah Tuhan.

Anda beruntung lahir di negara yang berbahasa al Qur’an.” ujar saya. “ Anda tahu, Kebebasan bagi saya adalah terbebasnya dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Itu sebabnya bagi saya berhijab adalah salah satu bentuk kebebasan, bukannya beban seperti yang anda rasakan.”

Dia diam saja. Saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Si sulung dan sinomor dua datang sambil berlari-lari kecil.

“ Is it ashr time ?” tanya si sulung. Saya jawab insya Allah sebentar lagi.

“Ok,” jawab si sulung. “ Let’s wudu” ajaknya kepada adiknya. Saya ikuti mereka dengan pandangan sayang. Walau kadang bandel, syukurlah kalau soalshalat mereka sangat cinta.

“Mereka anakmu juga?” tanya sister itu lagi.

“Ya” jawabku.

“Berapa umurnya ?”

“Yang besar hampir 6 tahun, adiknya 4, dan si kecil ini dua bulan lagi tepat 2 tahun.” jawab saya.

Sister itu terdiam.

“Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan stay di negara arab ?” tanyanya tiba-tiba.

“Di manapun kita harus berjuang untuk kebebasan yang sesungguhnya. Berjuanguntuk menegakkan nilai-nilai Tuhan. Meski itu di negara Arab. Bila itu yang anda perjuangkan, dimana pun insya Allah saya mendukung anda” jawab saya.

“Kalaupun tinggal disini, bila hanya jadi budak nafsu,tidak akan memberi kebahagiaan. Anda harus berjuang untuk kebebasan yang sebenarnya…”

Sore makin terasa dingin. Waktu saya ajak ke dalam masjid untuk shalat ashar, dia menggeleng.

“Saya harus pulang.” tuturnya. Dia melangkah perlahan, kali ini tidaktergesa seperti tadi. Saya berdoa mudah-mudahan saja ia masih ingat cara shalat. Di dalam masjid saya berjumpa sister Khadijah dari Palestina. Entah mengapa tiba-tiba ia berkata,

“Sesungguhnya tugas terberat kami adalah ….mengislamkan orang-orang Arab sendiri.”

Berceritalah ia tentang sebagian bangsanya yang malu mengaku dirinya muslim. Apa saja dilakukan asal bisa terbebas dari atribut keislaman yang identik dengan terorisme, keterbelakangan dan belenggu kebebasan.

Teringat saya dengan kondisi di negara kita yang sebenarnya tidak jauhberbeda. Jalan ini masih amat panjang terbentang, mendaki lagi sukar. Kian lama kian terasa seakan menggenggam bara. Saya dan anak-anak pulang ketika gerimis makin membasah. Dua jagoan kami berceloteh tentang karnaval, sementara pikiran saya masih di pertemuan tadi.

Wa Islama….wa islama…, wahai Islam…wahai Islam, begitulah bisikan syair yang terngiang di telinga saya. Bagaimana kita bisa tegak penuh hargadiri jika umat Islam sendiri malu dengan agamanya ?

Bagaimana kita dapat menjadi penebar rahmat kalau kita sendiri jauh dari firman sang Pemberi Rahmat?

Ah..saya jadi ingin merajut malam ini. Tidak, bukan merajut rumah laba-laba yang rapuh tapi merajut permadani yang kuat yang bakalan menerbangkan anakcucu kami ke alam kebebasan,….bebas mencintai tuhannya.




Memori Sepotong Coklat


Ai Varidah
———————————————–
Silverqueen ‘95 
Hem! Nyam! Nyam! 
Kiran termangu-mangu di sebuah mini market. Ditengoknya kantong seragam yang di depannya ada label OSIS warna cokelat. Emh, hanya ada selembar gopek lecek yang nongkrong di sana. Itu pun buat ongkos pulang. Mana cukup! 
"Heh, yuk ah. Aku cuma beli parfum doang," tahu-tahu Rima telah menarik lengannya. 
Yaa, Kiran yang memang datang ke mini market ini hanya ngantar Rima, mau tak mau mesti nurut. Kakinya melangkah, tapi matanya masih meleng ke belakang. 
"Eh, lihat apaan sih?" Rima sadar jika sobatnya tertarik sesuatu, "Ooh…, Silverqueen. Mau?" Rima tertawa meledek. 
"Huss! Malu-maluin aja kamu. Sana cepet bayar!" Kiran mendorong Rima ke arah kasir. Huh! Dasar anak ini. Bikin wajah memerah saja. Untung tidak ada yang merperhatikan. 
Kiran dan Rima baru saja ke luar ketika tiba-tiba mata mereka menangkap sosok jangkung. 
"Hei, Iwang!" teriak Rima nyaring tanpa bas. 
Dag-dig-dug! Jantung Kiran tiba-tiba berdegup kencang. Aduh! Gimana ini? Belakangan Kiran suka salting kalau ketemu Iwang. Hayo kenapa? Padahal mereka satu kelas lho. 
"Hei, lagi pada ngapain, Non?" Iwang mendekat, "Belon pada pulang nih?" 
"Kebetulan baru mau. Kita bareng ya, Wang? Kita kan bisa nebeng ongkos. Tul nggak, Ran?" Rima mengedipkan matanya ke arah Kiran yang tengah asyik merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya. Kiran hanya tersenyum gugup. 
"Mimpi apa gue semalam, siang-siang dibajak gini. Tapi tidak apa-apa, bajak lautnya ‘kan imut-imut," Iwang tertawa. 
Sebuah angkot lewat. Iwang buru-buru menyetopnya. Bertiga mereka naik. 
"Heh, sakit gigi ya, Ran? Diem aja sih," Iwang mulai memperhatikan Kiran setelah lelah telinganya mendengarkan Rima yang rame bercas-cis-cus. 
"Masih ingat Silverqueen ya? Aduh, kalo tadi dokuku masih ada pasti dibeliin." 
Asem tuh Rima! Berani-beraninya ia buka kartu di depan cowok ini. Wajah Kiran makin mirip kepiting rebus. 
"Ooh, pingin Silverqueen. Entar dah tak gue beliin," Iwang tertawa. 

Silverqueen Oktober ‘95 
"Eh… Teh Ian, ini apa?" Ros, adik Kiran yang masih cadel, tiba-tiba mengacungkan sebuah bungkusan dari dalam tas sekolah Kiran. 
Kiran menoleh kaget. Bungkusan dari mana itu? 
Kiran baru saja pulang sekolah dan melempar tasnya ke kasur. Kemudian Ros datang dan merazia tas warna biru dongker itu. Emang jadi kebiasaan tuh anak setelah sering mendapatkan permen dalam tas kakaknya. 
Sementara Kiran bengong, tangan mungil Ros telah merobek kertas kado bunga-bunga warna pink itu. 
"Aciik…! Cokyat!" teriaknya riang, "Teh Ian, ini buat Yos ya? Aciik! Mama, Mama, Iyos punya cokyat." 
Anak kecil itu berlari ke luar kamar sambil mengacungkan cokelatnya tinggi-tinggi. Sebatang Silverqueen. 
Kiran memungut bungkus kado yang tergeletak di lantai. Ada secarik kertas dilipat rapi. 
"Semoga harimu lebih indah. Met ultah." 
Singkat, padat, dan tanpa identitas. Kiran mengerutkan dahi. Ultah? Emangnya ini tanggal berapa? Yap! 17 Oktober. Ya, ampun, ini kan benar-benar ultahnya. 
Siapa yang mau memperhatikan tanggal bersejarah ini? Orang-orang rumah saja tak perduli. Kiran sendiri malah lupa. Lantas siapa yang menyimpan cokelat itu. Jangan-jangan… 

Silver queen Februari ‘96 
Be my valentine. Aku sayang kamu. 
Singkat, padat, dan lagi-lagi tanpa identitas. Silverqueen misterius yang nyaris terlupakan itu kini muncul lagi di tas Kiran, plus selembar kartu valentine warna pink. Romantis, bo! 
"Woow! Dapet hadiah ya, Ran?" Tiba-tiba Rima telah berdiri di samping Kiran. Kelas kosong. Anak-anak sudah pulang. Tinggal mereka berdua yang belum beranjak. 
"Eh, coba lihat!" Rima merebut kartu dari tangan Kiran, "Kok nggak ada pengirimnya?" 
"Siapa ya, Rim?" 
"Mana aku tahu," Rima mengangkat bahu, "Yang jelas dia sayang kamu. Jangan-jangan si Abi. Dia kan naksir berat ama kamu." 
"Amit-amit deh." 
"Lho kenapa? Ya, terima aja. Si Abi ‘kan lumayan." 
"Embat aja ama situ. Sekalian tuh ama coklatnya." 
Tiba-tiba saja Kiran ketakutan sendiri. Tak bisa dibayangkan kalau itu benar-benar dari Abi. Ih, kepikiran juga nggak tentang anak itu. 

Silverqueen Oktober ‘96 
Ting! Tong! Ting! Tong! 
Ah, siapa sih sore-sore begini? Kiran agak malas membukakan pintu. Habis ia lagi asyik baca buku. Sebuah buku praktis penuntun salat. Dikit-dikit Kiran ingin memperbaiki salatnya yang selama ini terkesan asal jadi. 
Ting! Tong! Bel pintu masih cerewet juga. Ogah-ogahan Kiran beranjak. 
"Eh, Rulli," Kiran menatap anak usia sepuluh tahun yang tegap di mulut pintu, "Ada apa?" 
"Ada titipan, Teh," Rulli menyodorkan benda panjang kurang lebih 20 centi meter berbungkus kertas kado pink. 
"Buat?" 
"Buat Teh Kiran." 
"Dari siapa?" Kiran menerima bungkusan itu dengan tatapan sangsi. 
"Rulli juga nggak tahu. Orangnya naik motor gede, pake helm, wajahnya nggak kelihatan. Mari, Teh." 
Kiran masih terbengong-bengong. Tak sadar kalau Rulli telah berlari meninggalkan rumahnya. Heh? Kiran terhenyak begitu mengamati kado di tangannya. Kertas warna pink bermotif bunga-bunga kecil. Yap! Sama persis dengan bungkus dua Silverqueen misterius. 
Wek! Wek! Buru-buru Kiran merobek kadonya. Silverqueen lagi 
"Selamat ulang tahun, Kiran." 
Hah? Ulang tahun? Iya. Ini ‘kan 17 Oktober! 
"Di sweat seventeen-mu ini aku hanya ingin bilang, kian hari aku tambah sayang kamu." 
Buntu. Kalimat itu berakhir sampai di sana. Tak ada nama pengirim. Bahkan sepotong huruf pun tak ada. Misterius! 
"Ris, di sekolahan kita ada anak yang suka pake motor gede nggak?" Kiran langsung menelepon Risma. Kali ini ia harus menemukan otak di balik Silverqueen iseng itu. 
"Banyak dong. Ada si Anton, Buyung, Farhan, Dika, Bima, dan si Abi." 
Deg! Jantung Kiran agak berdegup mendengar nama terakhir yang disebut Risma. 
"Ada apa, Ran?" 
"Ah, nggak. Udah dulu ya." 
Klik! Kiran menutup telepon. Tidak peduli Risma yang pasti terbengong-bengong di seberang sana. 

Silverqueen Oktober ‘97 
Ada lagi sepotong Silverqueen dengan bungkus kado warna pink berbunga-bunga kecil tepat pada tanggal 17 Oktober. Kali ini dibawa seorang tukang koran yang tiap pagi mengantarkan surat kebar untuk ayah. 
Kali ini tulisannya tidak begitu polos. Sedikit dibubuhi identitas walau hanya dua huruf. 
Selamat ulang tahun. 
Sampai detik ini aku masih tetap sayang kamu 
‘Bi 
Bi, Bi, siapa? Bi apa ya? Atau….? Ya. Bukankah Bi bisa saja potongan dari kata Abi. Jadi yang selama ini memberi Kiran sepotong Silverqueen…? 

Silverqueen ‘98 
Masa-masa SMU sudah mencapai batas. Resepsi perpisahan baru saja usai beberapa jam yang lalu. Hampir saja Kiran masuk ke mobil Papa, ketika Risma berlari-lari menghampirinya. 
"Tunggu, Ran. Ada titipan nih buatmu," Risma menyodorkan sebuah bungkusan. Kertas kado pink berbunga-bunga kecil. Kiran lagi-lagi tersentak. 
"Dari siapa?" 
"Entar dah tahu sendiri," 
Hati Kiran tiba-tiba berdegup kencang. Rasanya tak sabar untuk segera membuka bungkusan itu. Kebetulan Mama duduk di jok depan bersama Papa. Kiran bisa leluasa. 
Silverqueen again! 
Aku sayang kamu 
Sampai detik ini 
Aku pengecut 
Untuk menampakkan diri 
Tapi…satu hal 
Aku sayang kamu, Kiran 
Iwang Bimantara 
Deg! Terrr….! Dug! Dug! Derrrrr…! 

Silverqueen ‘99 
Januari 99, Silverqueen terakhir dari Iwang. Setelah itu tak ada lagi kabar tentang Iwang. Padahal sejak mereka menempuh kuliah di universitas yang berbeda dan di kota yang berjauhan, nyaris tiap minggu surat Iwang datang. 
"Cokelat memang manis, tapi kalau nggak tahu nempatinya cokelat bisa bikin gigi kita keropos," komentar Ula saat Kiran mengatakan jika ia rindu sepotong cokelat dari Iwang. 
Anak berjilbab teman sekost Kiran ini memang tidak respek dengan persoalan-persoalan macam ini. Kalau Kiran cerita tentang Iwang dan cokelat-cokelatnya, dia hanya diam tanpa komentar. Uh! Susah deh kalau ngomongin cowok sama dia. 
"Sebenarnya cokelatnya sih nggak jadi masalah, tapi kok surat Iwang nggak dateng-dateng aku kangen nih." 
Ula menelan ludah. Duh, Kiran anak manis. 
"Kiran, kupikir kehilangan surat-surat Iwang bukan musibah. Kamu nggak bisa baca surat-suratnya juga nggak rugi. Asal kita jangan sampai kehilangan surat-surat Ilahi dan tidak lupa membaca surat-Nya," 
Tuh, respon Ula tidak seperti respon Inne, Rice, dan konco-konconya di kampus. Biasanya mereka menyemangati bukan menghempaskan kayak begini. Bahkan Inne memberi saran biar Kiran nulis surat saja buat Iwang. 
Tapi… sudah hampir empat kali Kiran mengirim surat, tak satu pun yang dibalas Iwang. Ke mana aja tuh anak? Sibuk kuliah? Sibuk organisasi? Atau… jangan-jangan malah kecantol gadis Yogya. Kiran tak akan memaafkan kalau sampai Iwang berkhianat. 
Telepon ke rumahnya. Ide itu meleset dari otak Kiran. Andai saja teleponnya yang di Yogya bisa dihubungi, tentu Kiran dapat melacak keberadaan Iwang. Sayang berulang kali dihubungi, tak pernah sekali pun nyambung. 
Tak ada jalan lain selain telepon ke rumah Iwang. Siapa tahu nasib sedang mujur, Iwang kebetulan ada di rumah. Kalau pun tidak, ia bisa bertanya pada orang tua atau Firya, adiknya. 
Agak gemetar ketika sore ini Kiran memijiti nomor telepon rumah Iwang di wartel depan kampus. 
"Assalamualaikum." Nah, ini pasti suara Firya. 
"Kum salaam. Iwangnya ada?" 
"Mas Iwang nggak ada di rumah. Ini sama siapa ya?" 
"Sama Kiran." 
"Ooh, Teh Kiran. Sudah beberapa bulan ini Mas Iwang tidak pulang. Mungkin sibuk. Mau nitip pesan?" 
"Emh, kalau pulang atau telpon, tolong suruh dia menghubungi aku. Sudah beberapa bulan ini…" Kiran mengurungkan kata-katanya. Gengsi dong mesti ngeluh sama Firya tentang surat-surat Iwang yang tak pernah datang. 
"Insya Allah, Teh. Nnng… tapi kalau boleh Firya ngasih saran, lebih baik Teh Kiran belajar melupakan mas Iwang." 
"Lho? Memangnya ada apa?" Kiran merajuk. Perasaannya mulai tidak enak. Jangan-jangan ada sesuatu yang dapat mengancam stabilitas hubungan bilateralnya dengan Iwang. 
"Nggak ada apa-apa sih, cuma….cuma takut Teh Kiran nanti kecewa." 
"Selama Iwang tidak…, emh, rasanya Iwang nggak akan ngecewain." 
"Itulah, Teh. Emh… menurut orang bijak, tapi maaf lho, Jangan tersinggung. Nng… kalau kita berharap pada manusia maka kita harus siap untuk kecewa. Hanya berharap pada Allah yang tidak akan membuat kecewa." 
Kiran menjauhkan horn telepon dari telinganya beberapa saat. Bisa juga nih anak ngomong. 
"Baiklah, Ya. Nggak apa kalau Iwangnya nggak ada." 
Buru-buru Kiran menutup telepon. Sia-sia deh usahanya kali ini. Iwang benar-benar sulit dilacak. 

Silverqueen Oktober ‘99 
17 Oktober kelabu! 
Kali ini, tak ada lagi sepotong cokelat hadiah ulang tahun dari Iwang. Tak ada lagi kata-kata singkat, padat, dan romantis. Iwang telah menghilang entah ke belahan bumi yang mana. Iwang membuat Kiran lelah menanti. 
"Selamat ulang tahun, Kiran!" Tiba-tiba Ula datang menyerbu Kiran yang tengah tiduran di kasur. Baru saja Ula pulang kuliah. 
"Semoga Allah tambah sayang kamu," ujar Ula hangat. 
"Makasih, La." 
Mata Kiran berkaca-kaca. Haru ia dengan perhatian Ula. Hatinya sedikit terobati walau ulang tahun kali ini tanpa ucapan selamat dari Iwang tersayang yang mulai melayang. 
"Kiran, aku nggak bisa ngasih apa-apa." 
Ula menyodorkan bungkusan kecil berbentuk kotak. 
"Kok jadi ngerepotin, La. Makasih ya." Mata Kiran makin berkaca-kaca. 
"Ayolah buka, Ran. Mudah-mudahan kamu suka." 
Hati-hati Kiran membuka bungkus kado. 
Allah! Hati Kiran tergetar halus. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dengan tangis yang mendesak ingin ke luar. Kaca-kaca di matanya pecah menjadi bening air yang mulai berguguran. Matanya bersirobok dengan sepasang mata tenang Ula. 
"Ulaa…" Kiran memeluk Ula erat, "Makasih. Ini hadiah paling agung yang pernah aku terima. Al-Quran!" 
"Ini surat Sang Kekasih yang bisa menenangkan hati kita," Ula mengusap-usap rambut Kiran penuh sayang. 
Panas matahari di luar perlahan meredup, karena sang bola api menutupi wajahnya dengan selembar awan hitam. Udara terasa mulai sejuk. 

Silverqueen Januari 2000 
Kiran tersenyum. Firya duduk menunduk di hadapannya. Sangat manis dengan balutan jilbabnya birunya. 
Baru kemarin Kiran pulang. Ibu mengabarkan ada pesan dari Firya agar ia segera menghubungi gadis itu. Inilah hasilnya. Pertemuan di suatu siang yang cukup panas. 
"Firya ingin mengabarkan tentang Mas Iwang," Firya berucap hati-hati. 
"Katakanlah," Kiran sudah sangat siap mendengar apa pun tentang Iwang. Sekalipun sangat menyakitkan. 
"Semingggu yang lalu Mas Iwang berangkat ke Jepang." 
"Ke Jepang?" Dahi Kiran berkerut, "Dalam rangka?" 
"Studi." 
"Alhamdulillah! Aku turut bangga." 
"Cuma…emh…. sebelum pergi Mas Iwang menitipkan ini buat Teh Kiran." 
Kiran meraih lipatan kertas putih yang disodorkan Firya. Sebuah surat pendek. 
"Aku ingin mohon maaf atas semua yang telah terjadi antara kita selama ini. Lupakan potongan-potongan cokelat yang telah mengotori hati kita masing-masing. Ada yang jauh lebih berarti dalam hidup ini daripada sepotong cokelat." 
Kiran melipat kembali kertas itu tanpa beban, seperti dia melipat masa lalunya dalam catatan sejarah. 
"Mas Iwang sangat terbebani telah menyeret Teh Kiran dalam hubungan yang tidak syar’i. Maafkan Mas Iwang ya, Teh." 
"Teteh juga salah. Khilaf. Biarkan saja masa itu itu sebagai cermin." 
Mata Firya berbinar. Ditatapnya wajah Kiran yang tampak lebih teduh dalam balutan jilbabnya. 
Selamat jalan, Iwang! Umat menantimu kembali. 




Ketika Rijal Harus Memilih


Mentari pagi menemani perjalanan Rijal ke sekolahnya. Ada sekitar 300 meteran dari jalan raya menuju sekolah Rijal. Perjalanan itu ia lalui dengan kecepatan sedang, karena waktu baru menunjukkan pukul 06.45 WIB. Sedangkan ia baru masuk pada pukul 07.15 WIB. 

Sinar mentari tidak-lah terlalu garang. Justru bersahabat karena sinar mudanya menyehatkan tubuh. Namun Rijal sama sekali tidak tertarik untuk menikmati sinarnya. Karena ia sedang gamang, hatinya pada kegundahan yang bergelora. 

“Lihat Juli, kakakmu, Rijal! Dia aktif. Ketua OSIS di sekolah-nya waktu dia masih SMU. Bahkan kesibukannya jadi ketua OSIS, tidak menghalangi dia untuk tetap jadi juara kelas.” Tukas Papa Rijal suatu ketika, sorenya saat hari itu dia dinyatakan diterima di salah satu SMU di Bandar Lampung. Memang bukan sekolah unggulan pertama, tapi SMU yang akan dia masuki itu berada di jajaran SMU favorite di kotanya.

“Tapi Pa, kan Rijal sibuk di Grup Band Rijal. Rijal nggak bisa ikut kegiatan gituan. Nggak ada waktu.”

“Kamu ini. Apa sih yang didapat dari main band? Cuma sekedar hura-hura. Nggak ada manfaatnya itu.”

“Ah Papa. Musik kan juga bisa ngasilin uang.”

“Memang, Tapi Papa nggak mau kalau kamu besar nanti jadi pemusik. Nggak kepingin tah kamu jadi Om Heru? Sekarang jadi menejer di perusahan besar. Masa depannya lebih terjamin. Kalau kamu cuma jadi pemusik, kamu cuma bisa dapat uang banyak waktu kamu terkenal saja. Saat kamu tidak lagi terkenal, otomatis karirmu terhenti.”

“Papa selalu deh ngebandingin Rijal dengan orang laen. Rijal pengen jadi diri Rijal sendiri.”

“Rijal, sampai kapan kamu selalu membantah omongan orang tua?”

“Sudah-sudah. Jangan bertengkar terus. Nggak Papa, nggak anak, selalu ribut, selalu beda pendapat. Coba sekali-kali akur gitu.” Mama Rijal menengahi keributan itu. “Rijal, katanya kamu ada latihan jam lima. Ini sudah jam empat lho. Mandi lagi sana.” Lanjut Mam Rijal.

“Ih, ibu ini. Malah memberi kesempatan Rijal hura-hura dengan teman-temannya.”

“Nggak papa tho Pa, dia kan masih muda. Perlu kesenangan juga. Kita kan dulu pernah muda juga.” Bela Mama Rijal.

“Ah, nggak Mamanya, nggak anaknya, semua pada suka membantah.” Papa Rijal kesal. Dan kemudian meneruskan bacaan korannya.

Dialog itu membayang di benak Rijal. Mengantarnya ke kelas yang baru seminggu ia tempati.

Begitulah, Rijal dituntut oleh kedua orangtuanya untuk mengikuti jejak kakaknya. Aktif di organisasi dan berprestasi besar. Dia sendiri ogah untuk mengikuti organisasi di sekolah barunya. Dia lebih cenderung untuk menyibukkan diri dengan teman-temannya di grup bandnya. Itulah yang menyebabkannya bimbang kini.

***** 

“Rendi, lu ikut yang mana kira-kira. Paskibra, PMR, Pramuka, KIR, Pecinta Alam, Olahraga? Atau lu mau ikut Ro… apaan tuh yang ada islam-islamnya?” Tanya Rijal kepada Rendi, temannya yang baru seminggu ia kenal semenjak Masa Orientasi Siswa.

Ini hari terakhir Masa Orientasi Siswa, atau yang disingkat dengan MOS. Ada pertunjukkan dari semua organisasi ekstrakurikuler di lapangan. Semua siswa kelas satu berada di pinggir lapangan menyaksikan pertunjukan yang akan dibawakan oleh kakak kelasnya, yang merupakan utusan dari ekskulnya masing-masing.

“Rohis maksud lu?” Tanya Rendi balik.

“Yo’e. Lu tertarik? Biar jadi alim kan. Ciee.”

“Nggak tau tuh. Males kayaknya ikut ekskul. Mendingan gua maen play station di rumah. Nggak diwajibin kan ikut ekskul?”

“Nggak kok. Kalau sama sekolah nggak diwajibin. Tapi kalo sama ortu gua diwajibin. Gua harus ikut biar kayak kakak gua yang dulu ketua OSIS. Pusing juga gua jadinya.”

“Kaciaan.”

“Lu jadi penasehat gua ya, Ren. Tunjukin yang mana kira-kira ekskul yang cocok untuk orang cute kayak gua ini.”

“Ok deeh.”

Sebuah organisasi mendapat giliran mengadakan pertunjukkan di tengah lapangan. Mereka membawa dua bejana kecil, berisi zat kimia. Kemudian mencampurnya di atas meja yang telah di persiapkan. Asap warna warni tak lama mengepul dari bejana yang telah dicampur dua zat berlainan itu. Penonton bertepuk tangan.

“Itu aja Jal. Nambah pengetahuan lu kan.” Nasehat Rendi.

“Ih, gua ogah sama yang begituan. Nanti botak lagi kepala gua.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu bego.”

Tak lama, gantian sebuah organisasi mengadakan pertunjukan baris berbaris di depan.

“Nah, itu aja. Bisa nambah disiplin.” Nasehat Rendi lagi.

“Ah males. Gua mau yang bebas. Nggak mau yang diatur-atur.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu pemales.”

Kemudian sebuah organisasi mengadakan pertunjukkan. Tujuh orang maju ke depan. Mereka menyanyikan lagu keislaman. Suaranya cukup harmonis. Lirik lagunya pun menyentuh.

“Nah, itu aja. Biar lu jadi anak yang soleh.”

“Ah males. Ngaji gua belum lancar. Lagian tuh grup musik kok aneh? Nggak make alat musik.”

“Oh, itu namanya nasyid. Memang nggak make musik. Tapi make suara mulut kayak acapella.”

“Ih, kuno amat ya? Enakan dengerin Padi, musiknya ok punya. Nggak mau lah gua ikut begituan.”

“Dasar lu, ngomong aja kalo lu bejat.”

“Lu komentar m’lulu dari tadi.” Rijal sebal.

Akhirnya sampai selesai acara, tidak ada satu organisasi pun yang tertarik di hati Rijal. Ia lebih menggandrungi dunia musik. Dari pada ikut organisasi ekstra kurikuler.

***** 

Sholat jum’at sudah selesai dilaksanakan di masjid sekolah Rijal. Murid dan guru sudah banyak yang meninggalkan masjid. Rijal masih terpaku di tempat duduknya. Terngiang kembali perdebatan alot antara dia dan orangtuanya.

“Nggak ada yang menarik Paa. Ngeliat pertamanya aja udah bosen. Papa ini gimana sih. Orang nggak mau juga, pake dipaksain segala.” Suara Rijal meninggi setelah dia didesak oleh Papanya untuk mengikuti salah satu organisasi ekstrakurikuler di sekolahnya.

“Ini kan juga untuk kepentingan kamu.”

“Kepentingan sih kepentingan. Tapi liat selera orang dong. Masak yang nggak selera di paksain. Nanti muntah jadinya.”

“Pokoknya Papa nggak mengizinkan kamu ikut band lagi. Papa nggak akan membelikan kamu gitar listrik. Dan uang jajan kamu juga akan dikurangi kalau tidak mau ikut organisasi di sekolah. Titik.” Papa Rijal mengeras. Kemudian berlalu memasuki kamarnya.

Tinggal Rijal terpekur ditemani ibunya.

“Ikut saja lah kata Papamu itu. Toh, Papa itu sayang kamu. Ingin melihat kamu jadi orang besar nantinya.” Suara Mama Rijal lembut.

“Ma… Mama masih bisa ngertiin Rijal kan?”

“Ia sayang.”

“Rijal pengen jadi apa yang Rijal mauin. Rijal nggak suka dipaksa-paksa.”

“Ok, Rijal sekarang pengen jadi pemusik. Tapi ingat, Rijal masih muda. Keingingannya sering berubah-ubah. Dulu Rijal ingin jadi pilot, eh nggak lama berrubah ingin jadi astronot. Seperti Tasya saja. Lalu Rijal lihat orang pembawa bendera, Rijal ingin menjadi paskibraka. Tak lama Rijal melihat paskibraka itu menyerahkan bendera kepada pesiden, eh Rijal malah ingin jadi presiden.”

Rijal tersenyum lucu. “Iya ya Ma. Terus, gimana dong Rijal. Rijal sekarang pengen bener jadi pemusik.”

“Udah, gini aja. Rijal ikut aja dulu organisasi, lalu kalau Rijal tidak betah, Rijal boleh keluar. Terus Rijal lanjutin maen musiknya. Insya Allah Mama nanti yang bilangin ke Papa.”

Rijal tersenyum girang. Mamanya selalu menjadi penyejuk duka. “Makasih ya, Ma.”

Rijal menemukan jalan keluarnya. Dan kini dia berupaya membetahkan diri untuk mengikuti organisasi. Namun organisasi yang mana yang ia ikuti?

“Assalamualaikum..” Sebuah sapaan membuyarkan lamunan Rijal yang sedari tadi terpekur di masjid sekolahnya.

“Wa..waalaikum salam.” Rijal terkejut.

“Ayo Dik, kumpul.” Seorang kakak mengajaknya bergabung ke salah satu lingkaran di sudut masjid. “Yang lain sudah duluan.

Rijal tak mengerti. Tapi diikutinya juga perintah kakak kelas itu.

Rijal baru tahu. Ini seperti sebuah acara pengajian. Ada membaca Al-Qur’an bergiliran. Dan ada ceramah seperti yang diikutinya saat ini.

“Islam itu agama yang indah dan sempurna. Karena dikonsep oleh Dzat Yang Maha Indah dan Maha Sempurna. Ajaran Islam mencakup dari persoalan ibadah, kedisiplinan, keilmuan, sampai kesenian.”

Rijal mengerti. Ini acara Rohis. Rohani Islam.

“Islam mengajarkan disiplin. Contohnya adalah sholat lima waktu. Islam mewajibkan kita menuntut ilmu. Sehingga lahirlah sosok Ibnu Sina. Islam menyuruh kita berolahraga, seperti memanah, berkuda, beladiri, dan sebagainya. Islam juga memiliki kesenian. Contohnya yang sudah dibawakan oleh kakak-kakak kita saat pertunjukkan kemarin. Sudah lihat kan?”

“Sudah.” Jawab anak yang lain.

“Kemarin itu namanya nasyid. Seni Islam sebagai alternatif dari seni yang ada. Yang cenderung mempengaruhi pemuda Islam untuk terkapar di lumpur yang bernama dunia. Dan melupakan akhirat.

Seni Islam lahir untuk menyaingi itu semua. Syairnya mengajarkan cinta kasih Islam. Dan nggak kalah bagus kan?”

Rijal membenarkan di hatinya. Memang bagus. Dan liriknya juga indah.

Hidayah Allah mulai menyentuh hati Rijal.

Dan acara itu berakhir. Rijal terkesan dengan penggambaran Islam oleh Kak Syaiful tadi. Selama ini, ia hanya terkukung dengan pemahaman Islam yang terbatas. Kak Syaiful telah membuka jendela hatinya, melihat bahwa Islam begitu luas dan lapang. Tidak seperti yang selama ini ia pikirkan.

Ia mengakui kalau dirinya selama ini malas menerapkan Islam dan malu apabila terlihat beratribut Islam. Seharusnya dia bangga.

Rijal mengerti kini. Ia telah mendapatkan jawabannya.

*****

“Ma, Rijal udah nemuin ekskul yang oke punya.” Ungkap Rijal pada Mamanya di malam harinya.

Mamanya sedang membaca majalah di ruang tengah.

“Oya?”

“Iya. Organisasi itu bener-bener hebat. Bisa ngebahagiain Rijal dunia maupun akhirat.”

“Dunia akhirat?” Tanya Mamanya menyelidik.

“Iya. Rohani Islam namanya. Mama setuju kan?”

Mata Mama Rijal berbinar. Selama ini Rijal sulit apabila disuruh belajar mengaji. Walau sudah didatangkan ustadz. Apalagi untuk belajar ilmu keislaman.

Padahal Mama Rijal terlanjur membayangkan ada anaknya yang mengajarinya ilmu keislaman kelak. Yang mengingatinya untuk sholat apabila ia sudah pikun nanti. Dan bayangan itu hampir hilang, karena tidak ada satu pun anaknya yang mau belajar Islam. Juli, kakak Rijal, lebih kepada belajar dan berorganisasi saja. Dan organisasi yang diikutinya tidak ada yang berbau keislaman. Juli sudah dibujuk oleh Mamanya untuk ikut acara Remaja Islam Masjid di Masjid dekat rumah. Namun ia tidak mau.

Rijal lain lagi, ia sibuk dengan musiknya.

Dan kini, Rijal-lah harapan itu.

“Rijal mau aktif di sana, Insya Allah.”

“Alhamdulillah. Mama senang mendengarnya.”

Air mata Mama Rijal meleleh. Di dekapnya kepala anaknya




Koran Gondrong


Sejak dahulu hingga sekarang, tak seorangpun dalam keluarga kami yang seperti Niq, gondrong! Kecuali yang perempuan, tentu saja. Kakek, Paman, Ayah, Bang Faris, semua selalu berpenampilan necis dan keren. Necis orang bilang.

"Pokoknya Niq suka begini!" kata adikku itu suatu ketika.
"Memangnya ada yang dirugikan kalau Niq gondrong? Rambut-rambut gue …" katanya cuek.
"Bukan gitu, Niq. Kamu tuh jadi kayak cewek. Apalagi kalau dilihat dari belakang," tegurku tak suka.

"Kak Wiwi aja yang kuno, norak. Sekarang emang jamannya begini. Lihat aja anak-anak kampus Niq, rata-rata kayak Niq. Keren!"
"Kucel, kumal, serem …" potongku sewot.
"Niq ganteng, bersih, dan banyak yang naksir!" tambah Niq tak mau kalah, sambir menyisir rambutnya yang sepinggang itu. Aku mencibir.

"Jangan suka menghina deh, Kak! Rasulullah aja gondrong, kok!" kata Niq akhirnya sambil ngeloyor meninggalkanku.
Aku bengong. Manyun. Rasulullah? Gondrong? Hah, tahu dari mana tuh anak?

Tak kupungkiri, Niq memang berbeda dengan cowok-cowok gondrong lainnya. Rambutnya tebal, hitam dan mengkilap. Ia rajin sekali merawatnya. Terkadang kupergoki Niq melumuri rambutnya dengan kemiri. 

Lain waktu, saat Ibu ribut mencari jeruk nipis yang baru dibelinya di pasar, kutemui Niq asyik memeras jeruk-jeruk nipis itu sebelum akhirnya membasuh dan memijat kepalanya dengan ‘belanjaan’ Ibu itu. Lain waktu pakai rumput lautlah, madulah …, pokoknya heboh.

"Hoi, siapa di kamar mandi? Niq, ya? Buruan, dong!!!" teriak Bang Faris. "Bisa terlambat aku ke kantor," katanya sambil melirikku.
"Sabar dong, Bang! Niq lagi keramas!" suara Niq santai dari kamar mandi.

Kami saling lirik. Kalau Niq udah keramas, mendingan jangan ditungguin. Bisa ‘botak sariawan’ kita. Soalnya cuci bilasnya saja sampai lima kali. Belum pakai hair tonic, cem-ceman, lidah buaya dan sebagainya. Malah ditambah berdoremi di kamar mandi lagi. Maklum aja, anak IKJ jurusan musik!
"Sudah, mandi di kamar Ibu aja, Ris," suara Ibu. "Kamu juga, Wi. Jangan ribut pagi-pagi."

***
"Pokoknya Niq, kalau kamu mau merapikan rambut kamu, Kak Wiwi kasih dua puluh ribu, deh!" kataku saat berada di meja makan.
Semua tersenyum.
"Ogahlah yau. Rambut Niq lebih mahal dari itu."
"Lima puluh ribu, deh!" kataku lagi.
Niq Cuma nyengir. "Sorry. Not for sale!"
"Seratus ribu!" seruku sambil memasukkan sepotong tempe ke dalam mulut. "Biar kubedol celenganku!"

Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala. Niq tak bergeming.
"Dua ratus ribu lagi dariku!" tambah Bang Faris tiba-tiba.
Niq senyam-senyum. "Ditukar motor pun belum tentu Niq mau!" katanya menang.

"Memangnya rambut kamu itu ada apanya, sih?" cetusku kesal.
"Kekuatan … ceila!" ujar Niq gede rasa.
"Emangnya Samson!?" ledekku.

"Sudah-sudah. Ayah tambah sertus lima puluh lagi, deh," kata Ayah sambil menambahkan nasi ke piring.
Aku surprise!
"Ibu juga sama," tambah Ibu. "Gimana, Niq? Kamu berubah pikiran?"

Niq masih menggeleng. Mantap sekali! Tujuh ratus ribu baginya tak berarti dibandingkan ‘kekuatan’ itu? Uh, sebel!

***

"Koran!"
Seperti biasa pagi ini kulihat Niq berlari menghampiri Udin, bocah SD tukang koran langganan kami itu. Kalau soal baca koran, Niq memang nomor satu. Nggak mau ketinggalan berita, begitu katanya.

Dari jauh kulihat mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku hanya sempat melihat Niq menepuk-nepuk pundak Udin, akrab. Lalu tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu pada sosok Udin. Ya ampun, sejak kapan rambutnya jadi sebahu?! Gondrong!

"Kok si Udin jadi gondrong sih, Niq?" tanyaku sambil tergesa-gesa memakai sepatu. Satu jam lagi kuliah terakhir Bu Sijunjung. Aku tak boleh telat!

"Katanya mumpung liburan. Biar keren kayak Om Niq," jawab Niq sekenanya sambil membuka lembaran koran.
Aku mesem. Belagu!

"Eh, Kak Wi, mau ikutan ke Gunung Salak nggak? Anak-anak kampus ngadain pendakian sama baksos. Orang luar juga boleh ikut," kata Niq tiba-tiba. Matanya sesaat lepas dari koran, dan tangannya memilin-milin ujung rambut gondrongnya.

Aku nyengir. Dahulu, sebelum pakai jilbab,aku memang pendaki handal. Niq belum lupa itu.
"Nitip baju bekas aja, deh, buat baksos." Kuraih tasku dan bersiap pergi.

Niq ngangguk. "Boleh! Bilangin sama Bang Faris, Kak. Biar dia nyumbang juga!" kata Niq nyengir. "Kasihan masyarakat di sana. Malah tanahnya banyak direbut orang kota!" teriaknya sebelum aku berlalu.

Di dalam bus, wajah Niq terus terbayang….

Adikku itu gagah, tegar, dan terkesan garang, tetapi sebenarnya lembut hati dan senang menolong. Ia juga punya banyak teman. Namun biar bagaimanapun, rasanya aneh bukan, seorang aktivis rohis punya adik model Bob Marley?
"Bob Marley yang ini rajin shalat, lho! Niq kan metal Islam," kata Niq suatu ketika.

"Tapi kamu tahu nggak, arti namamu sebenarnya?"
"Aniq Hanif? Oh ya, Niq, kok nggak pernah nanya sama Ayah Ibu, ya?" cengirnya sambil membetulkan senar gitarnya yang putus.

"Artinya rapi dan baik. Dan kalau lihat kamu sekarang, nama itu kurang sesuai," kataku.

"Sesuai. Percayalah padaku, kakakku sayang," katanya sok romantis. "Tanyakan saja pada rumput laut dan jeruk nipis!"
Iiiih, Niq!

"Kampus! Kampus!" Suara kenek bus mengagetkanku. Aku pun buru-buru turun. Dug! Pakai kesandung lagi! Ups, aku hampir jatuh dan …
"Maaf," kataku saat kusadari sepatuku sempat menginjak kaki orang.

Lelaki gondrong yang bergelantungan dan beralas sandal jepit itu diam. Melotot padaku.
Aku bergidik. Buru-buru turun. 
***

"Coba deh, Da. Suruh Niq pangkas. Biar rapi," kataku pada Ida, teman dekat Niq, setengah berbisik, saat dia berkunjung ke rumah.

"Udah, Kak. Dianya nggak mau!" jawab Ida enteng.
Aku menarik napas panjang. Sungguh, aku nggak pernah setuju Niq pacaran dengan Ida. Bagiku nggak ada konsep pacaran dalam Islam. Tapi … mau tidak mau kali ini aku harus memanfaatkan Ida untuk ngomong dengan Niq.

"Coba deh kamu jujur, kamu nggak suka kan kalo Niq gondrong?" tanyaku pelan.
Ida menyeruput teh manis yang kusediakan. "Oh … eh … ng, gimana ya, Kak? Suka juga. Abis macho, sih," ujarnya kemudian malu-malu.

Aku geregetan. Duh, gimana, nih? Siapa lagi yang bias menasihati si Gondrong itu?

"Ini kan jaman kemerekaan. Demokrasi," masih kuingat kata Ayah, bagai anggota DPR. "Terserah dia sajalah, Wi. Nggak usah dipaksa-paksa."
"Ibu juga sependapat. Yang penting, dia tidak rusak seperti anak tetangga sebelah itu!"

"Ah, Cuma buang-buang waktu, nasihati dia!" kata Bang Faris. "Mendingan ngurusin kerjaanku."

Nah, tujuh ratus ribu aja, ditolak!
"Ayo, dong, Da! Kalau kamu bisa bujuk Niq, Kakak beri hadiah, deh!" rayuku lagi.

Ida, yang hingga sekarang masih berbiat jadi artis sinetron itu membetulkan letak duduknya. "Gimana, ya? Yaaa, Ida coba deh. Tapi, nggak janji, lho!"

Tiba-tiba Niq muncul. Rambutnya rapat dibungkus handuk. "Sorry ya, kemirinya belum meresap, Da," ujarnya, santai. "Habis itu mesti dibilas lagi, baru dikeringin. Gue nggak suka pakai hair drayer. Bisa bikin rusak rambut! Sabar ya, Non?"
Ida diam saja. Mesem.

"Kalah sama kemiri," bisikku. "Dua hari lalu kalah sama alpukat, ya?"
Ida menukar posisi duduk dan mengaduk teh manisnya. Rasain!

***

"Koran!" suara Udin terdengar agak serak pagi ini.
Aku mengintip dari balik tirai. Niq dan Udin tertawa-tawa. Masing-masing memegang rambut gondrongnya. Apa coba?
"Hati-hati ya, Din! Ingat, kalau ada apa-apa pager, aja!" kata Niq. Kulihat Udin mengangguk. Kemudian menggenjot sepedanya dan berlalu.

Aku keluar.
"Lho, kirain udah pergi rapat lagi," sapa Niq. "Ayah dan Bang Faris malah pagi-pagi banget udah pergi."
"Belum." Kuraih salah satu koran langganan kami. Ooo …!

Dasar koran kriminal. Beritanya tentang pembunuhan, perampokan, perkosaan, dan pengeroyokan. Tiba-tiba mataku memandang sebuah foto yang terpampang di situ. Lalu mataku bergerak memandang foto-foto lainnya. Masya Allah!

"Ehm .. hm …" aku berdehem.
"Kenapa, Kak?"
"Lihat foto-foto di koran ini …"
"Kenapa?" Niq meraih koran itu.

"Penjahatnya kok, gondrong semua …" kataku pelan.
"Huh, Sara! Banyak kok, orang gondrong berhati mulia! Wajah Niq mengeras. "Jangan terpengaruh gitu dong, Kak?!"
Aku mengangkat bahu dan meninggalkan Niq sendiri. Galau.

***

"Hari ini, di kampus, aku dan teman-teman aktivis Rohis berkumpul di mushala. Lepas sholat zuhur, kami mengadakan rapat untuk acara pesantren kilat (sanlat) mengisi liburan.

"Ajak aja Niq, Wi!" kata Ratna. "Ikhwan panitia juga banyak yang mengajak adiknya."
"Ngajak Niq? Ke laut, aja!" ledekku. "Sejak kapan dia berminat?"
"Hus, nggak boleh gitu. Namanya hidayah, siapa tahu?" timpal Kiki.

Aku menggeleng. Susah mengajak Niq ke acara-acara seperti itu. Dia mau shalat saja aku sudah syukur banget!
"Rambutnya belum dipotong juga?" Tanya Ratna tiba-tiba. Ratna dan Kiki memang orang kampus yang paling tahu tentang keluargaku.

"Belum," jawabku pendek.
"Hati-hati lho, Wi. Bukan apa-apa. Biasanya cowok gondrong itu sering dikira preman, sering juga dikira anak bandel. Pemabuk atau pemadat!"

Aku agak tersinggung dengan ucapan Ratna. "Niq nggak begitu, kok!"
"Iya, aku tahu." Ratna menjajari langkahku. "Jaga-jaga saja. Kamu tahu nggak, anak-anak kiri di kampus kita rata-rata gondrong. Lalu … setiap ada kerusuhan di Jakarta, itu kan banyak cowok-cowok gondrong yang terlibat."

Alisku terangkat.
"Selain Budiman Sudjatmiko, anak-anak PRD itu banyak yang gondrong!"
"Iya, bilang sama Niq, jangan sampai kalau ada apa-apa, dia yang kena!" timpal Kiki. "Orang jaman sekarang kan sering salah paham dan suka mencari kambing hitam!"
Ooo …! Kok, ngomongnya jadi pada ngelantur sih?

***

"Kok, diam saja dari tadi, Wi? Ada masalah?" Tanya Ibu lembut.
Aku menggeleng. Kulirik jam di dinding. Pukul 23.30, dan Niq belum juga pulang.

"Niq, kok, belum pulang sih, Bu?’
"Katanya latihan band di Grogol. Di rumahnya si Dodo!" suara ayah yang masih betah menonton televisi.

"Astaghfirullah. Perasaan Wiwi kok, nggak enak, ya?!"
"Aku juga, Wi. Soalnya tadi dia bilang mau pulang cepat. Film di tivi bagus!" Bang Faris menghampiriku.

"Aduh … gimana, ya?"
"Kenapa, sih?" desak Ibu yang sudah beberapa kali kulihat menguap.

"Wiwi … khawatir …"
"Cerita, dong!" desak Ibu.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Lalu tiba-tiba semua yang dikatakan Ratna dan Kiki mengalir. Kuceritakan kepada Ibu, Ayah, dan Bang Faris.

Dan … semua diam. Duh, aku jadi merasa bersalah! Sementara dentang jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Kita doakan saja tak terjadi apa-apa," kata Ayah. Waktu terus berlalu dan kami benar-benar tak bisa tidur! Sesekali pandangan kami mengarah pada telepon di ruang tamu.

Tepat pukul 01.00 pintu diketuk. Aku bangkit dan mengintip jendela. "Bukan Niq! Temannya kali! Bang Faris aja, yang buka!" kataku ketika melihat sosok asing dari balik jendela.
Semua berpandangan. Ayah dan Bang Faris bangkit, mengintip jendela, kemudian membuka pntu.
Seorang pemuda berambut rapi. Baju putihnya berdarah. Kami berempat menatap tak percaya! Niq!

Ibu langsung memeluk Niq panik! "Kamu kenapa? Ya Allah, bajumu berdarah?"
"Ya Robby …" bibirku kelu. Dengkulku lemas. Sementara aku masih menatap wajah Niq aneh. Dia tak gondrong lagi! Apa pula ini? Ah …

"Niq nggak jadi latihan band. Sebenarnya tadi mau langsung pulang … "
"Tapi?" Tanya Ayah tak sabar.

"Niq ketemu Udin." 
"Udin? Tukang Koran kita?" tanyaku beruntun.
Niq mengangguk. "Dia digebuk beberapa berandalan yang mau merampas duitnya. Niq nggak bisa membiarkan …"

"Lan … tas?" suara Ibu bergetar.
"Niq berantem. Berandalan itu kabur setelah Niq dan Udin berteriak minta tolong. Niq luka sedikit kena clurit."

Wajah kami pias. Ya Allah, adikku kena clurit!
"Tapi nggak apa, sudah ke poliklinik. Maaf, Niq nggak telepon. Takut semua panik."

Kami menarik napas lega. Ibu membelai Niq dan sesaat mengusap lebam wajahnya. Ayah menepuk bahunya. Bang Faris tercenung, sementara aku menatap Niq tak berkedip. Rambut gondrongnya benar-benar sudah raib!

"Ram … ram .. butmu?"
Niq tersenyum. Kami jadi bingung.
"Buat Udin," jawabnya pendek.
"Buat Udin? Buat apa?" Tanya kami hampir serempak. Emangnya Udin butuh rambut???

"Udin butuh duit buat lanjutin sekolah. Dia kan anak yatim dan ibunya cuma tukang cuci. Jadi … tadi Niq pangkas rambut agar uang yang tujuh ratus ribu itu bisa buat sekolah Udin dan modal emaknya buka warung."

Kami terbelalak. "Tujuh ratus ribu?" Tanya Ayah.
"Ya, yang dulu dijanjiin kalau Niq mau potong rambut. Masih berlaku, kan? Kalau bisa, besok duitnya sudah ada, ya?" Niq nyengir kuda.

"Rambut sih, bisa panjang lagi!" tambahnya badung.
"Hah?" semua berpandangan, mengerutkan kening.
Akan tetapi, mataku berkaca-kaca.

***