Sandal Jepit Isteriku

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

"Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

*******

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah…wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…" Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

********

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?" pinta isteriku. "Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu…?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

*******

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek…," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

"Maryam…!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

"Abi…!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

******

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu…," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)



Indahnya Beristrikan Seorang Sholihah

Hari itu merupakan hari bahagiaku, alhamdulillah. Aku telah menyempurnakan separo dienku: menikah. Aku benar-benar bahagia sehingga tak lupa setiap sepertiga malam terakhir aku mengucap puji syukur kepada-Nya.

Hari demi hari pun aku lalui dengan kebahagiaan bersama istri tercintaku. Aku tidak menyangka, begitu sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku dengan memberikan seorang pendamping yang setiap waktu selalu mengingatkanku ketika aku lalai kepada-Nya. Wajahnya yang tertutup cadar, menambah hatiku tenang.

Yang lebih bersyukur lagi, hatiku terasa tenteram ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja. Saat pergi dan pulang kerja, senyuman indahnya selalu menyambutku sebelum aku berucap salam. Bahkan, sampai saat ini aku belum bisa mendahului ucapan salamnya karena selalu terdahului olehnya. Subhanallah.

Wida, begitulah nama istri shalihahku. Usianya lebih tua dua tahun dari aku. Sekalipun usianya lebih tua, dia belum pernah berkata lebih keras daripada perkataanku. Setiap yang aku perintahkan, selalu dituruti dengan senyuman indahnya.

Sempat aku mencobanya memerintah berbohong dengan mengatakan kalau nanti ada yang mencariku, katakanlah aku tidak ada. Mendengar itu, istriku langsung menangis dan memelukku seraya berujar, “Apakah Aa’ (Kakanda) tega membiarkan aku berada di neraka karena perbuatan ini?”

Aku pun tersenyum, lalu kukatakan bahwa itu hanya ingin mencoba keimanannya. Mendengar itu, langsung saja aku mendapat cubitan kecil darinya dan kami pun tertawa.

Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang teramat sangat sehingga jika aku harus menggambarkanya, aku tak akan bisa. Dan sangat benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dunia hanyalah kesenangan sementara dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih baik daripada istri shalihah.” (Riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hari terus berganti dan tak terasa usia pernikahanku sudah lima bulan. Masya Allah.

Suatu malam istriku menangis tersedu-sedu, sehingga membangunkanku yang tengah tertidur. Merasa heran, aku pun bertanya kenapa dia menangis malam-malam begini.

Istriku hanya diam tertunduk dan masih dalam isakan tangisnya. Aku peluk erat dan aku belai rambutnya yang hitam pekat. Aku coba bertanya sekali lagi, apa penyebabnya? Setahuku, istriku cuma menangis ketika dalam keadaan shalat malam, tidak seperti malam itu.

Akhirnya, dengan berat hati istriku menceritakan penyebabnya. Astaghfirullah…alhamdulillah, aku terperanjat dan juga bahagia mendengar alasannya menangis. Istriku bilang, dia sedang hamil tiga bulan dan malam itu lagi mengidam. Dia ingin makan mie ayam kesukaanya tapi takut aku marah jika permohonannya itu diutarakan. Terlebih malam-malam begini, dia tidak mau merepotkanku.

Demi istri tersayang, malam itu aku bergegas meluncur mencari mie ayam kesukaannya. Alhamdulillah, walau memerlukan waktu yang lama dan harus mengiba kepada tukang mie (karena sudah tutup), akhirnya aku pun mendapatkannya.

Awalnya, tukang mie enggan memenuhi permintaanku. Namun setelah aku ceritakan apa yang terjadi, tukang mie itu pun tersenyum dan langsung menuju dapurnya. Tak lama kemudian memberikan bingkisan kecil berisi mie ayam permintaan istriku.

Ketika aku hendak membayar, dengan santun tukang mie tersebut berujar, “Nak, simpanlah uang itu buat anakmu kelak karena malam ini bapak merasa bahagia bisa menolong kamu. Sungguh pembalasan Allah lebih aku utamakan.”

Aku terenyuh. Begitu ikhlasnya si penjual mie itu. Setelah mengucapkan syukur dan tak lupa berterima kasih, aku pamit. Aku lihat senyumannya mengantar kepergianku.

“Alhamdulillah,” kata istriku ketika aku ceritakan begitu baiknya tukang mie itu. “Allah begitu sayang kepada kita dan ini harus kita syukuri, sungguh Allah akan menggantinya dengan pahala berlipat apa yang kita dan bapak itu lakukan malam ini,” katanya. Aku pun mengaminkannya.



13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam



13 Sifat Perempuan Yang Tidak Disukai Laki-Laki

Oleh: Ulis Tofa, Lc

Sehingga tidak ada pertanyaan lagi oleh para istri mulai saat ini, tentang sebab mengapa para suami mereka lari dari rumah. Karena salah satu Pusat Kajian di Eropa telah mengadakan survai seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survai ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan.

Survai itu menguatkan bahwa ada 13 sifat atau tipe perempuan yang tidak disukai laki-laki:

Pertama, perempuan yang kelaki-lakian, “mustarjalah”

Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survai itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survai dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.

Kedua, perempuan yang tidak bisa menahan lisannya “Tsartsarah”

Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.

Ketiga, perempuan materialistis “Maaddiyah”

Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Keempat, perempuan pemalas “muhmalah”

Tipe perempuan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.

Kelima, perempuan bodoh “ghobiyyah”

Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.

Keenam, perempuan pembohong “kadzibah”

Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, suka berbohong, tidak berkata sebenarnya, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele dan remah. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.

Ketujuh, perempuan yang mengaku serba hebat “mutabahiyah”

Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya, anaknya, di tempat kerjanya, dan kedudukan materi lainnya…

Kedelapan, perempuan sok jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya

Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

Kesembilan, perempuan yang iri dengan perempuan lainnya.

Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain.

Kesepuluh, perempuan murahan “mubtadzilah”

Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat.

Kesebelas, perempuan yang perasa “syadidah hasasiyyah”

Tipe perempuan seperti ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Suami menjadi masyghul dengan sikap cengengnya.

Keduabelas, perempuan pencemburu yang berlebihan “ghayyur gira zaidah”

Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

Ketigabelas, perempuan fanatis “mumillah”

Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau anak-anaknya, baik dalam urusan pribadi atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nerimo dengan satu kata, satu cara, setiap harinya selama tiga puluh tahun, tanpa ada rasa jenuh!



Abul


NR. Ina Huda

Tiba-tiba berita kematian Abul menggegerkan seisi kampung. Bahkan membuatku jadi terguncang. Abul adalah tokoh yang paling populer di kampung kami. Bukan, bukan karena dia orang penting, tokoh masyarakat ataupun selebritis. Tetapi sosoknya dikenal dan disukai hampir seisi kampung justru karena cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya.
Dia bukanlah orang yang menarik dari segi penampilan. Tubuhnya kurus kecil, rambutnya merah kering dan mukanya tirus agak kepucat-pucatan. Tetapi tingkahnya selalu membuat orang senang. Dia suka sekali berkeliling kampung dan berhenti bila ada sekelompok orang, lalu dia akan bercerita dengan semangat tentang segala hal. Lebih sering yang menyangkut agama. Bukan berdakwah, tapi bahkan sering kali agak melecehkan sikap orang-orang yang sok agamis. Dia tidur di musala karena tak seorang pun tahu di mana sebenarnya rumahnya. Dia rajin membersihkan musala bahkan seringkali menjadi muazin bila waktu menunaikan salat tiba.
Aku ingat Abul pernah bercerita padaku tentang Badrun, tokoh yang entah datang dari mana.
"Badrun ini jagonya judi," begitu dia membuka cerita. "Tak pernah sehari pun dia lewatkan tanpa berjudi. Judi apa saja. Dari menyabung ayam, klitikan pakai dadu, sampai keplek. Dan selalu, tentu saja seperti juga orang lain yang senang berjudi, dia tak pernah menang."
"Dia punya kerjaan nggak?" tanyaku.
"Kerjanya ya judi itu," sahut Abul.
"Lantas, dari mana dia dapat uang?"
"Dari meminta istrinya yang guru SD, atau orang tuanya, atau sekedar memalak teman-temannya."
Kami yang mendengarkan jadi mencibir.
"Suatu kali, dia menipu istrinya. Sepeda yang biasa dipakai istrinya berangkat kerja, dipinjamnya. Katanya dia hendak mencari kerja ke pabrik. Tentu saja si istri tak keberatan. Dia berpikir, mungkin bila Badrun benar-benar mendapatkan pekerjaan, dia akan punya kesibukan dan berhenti berjudi. Karena itu, dia rela meminjamkan sepedanya dan berangkat naik angkutan umum. Tetapi ternyata seharian Badrun tak pulang. Istrinya mulai cemas. Lalu ketika malam harinya dia pulang, si istri menyambutnya dengan perasaan was-was. Dia melihat muka Badrun lecek, pakaiannya kotor bahkan sobek di sana-sini. Si istri berkata, ‘Ada apa denganmu?’ dan Badrun menunduk dengan muka sedih. ‘Sudah kamu dapatkan pekerjaan?’ Badrun menggeleng. ‘Lalu kenapa pakaianmu amburadul begitu?’ Badrun menatap istrinya dengan prihatin, lalu katanya, ‘Aku berkelahi dengan maling.’ Si istri tentu saja terkejut. Dan Badrun pun bercerita. Dia baru saja keluar dari pabrik tekstil setelah menemui bagian personalia untuk melamar menjadi buruh. Tiba-tiba dia melihat seorang maling sedang berusaha mencuri sepedanya di tempat parkir yang kebetulan agak sepi dan tak dijaga oleh Satpam. Tentu saja Badrun bereaksi. Ia mendekati maling itu, tetapi sang maling tiba-tiba memukulnya, Badrun membalas dan jadilah mereka berkelahi. Celakanya Badrun kalah, dan sang maling berhasil membawa kabur sepedanya."
"Si istri memandang beberapa saat. Sorot matanya tidak menunjukkan bahwa dia percaya, namun juga tak menunjukkan dia curiga. Badrun menggenggam tangannya dan meminta maaf karena telah membuat istrinya kehilangan benda yang sesungguhnya sangat dibutuhkan. Tetapi karena si istri itu orang yang baik, dia segera memaafkan suaminya dan berkata lain kali dia harus lebih hati-hati."
"Dan sepedanya benar-benar hilang?" tanyaku penasaran.
Abul tersenyum. "Tentu saja tidak. Badrun itu pembohong besar. Yang pasti sepeda itu telah dijualnya dan uangnya habis di meja judi."
"Ooo."
"Suatu kali istri Badrun merasa putus asa menghadapi tingkah suaminya. Dia pergi ke rumah seorang kiai dan mencurahkan keluh kesahnya di sana. Sang kiai menasihati, ‘Suruhlah Badrun mengenal Al-Quran supaya dia tahu hidup seperti apa yang seharusnya dijalani.’ Si istri menyampaikan hal itu pada Badrun. Badrun termangu-mangu, lalu berkata; ‘Aku, aku pun sebenarnya ingin bertobat. Barangkali benar ucapan Pak Kiai itu. Berilah aku uang, aku akan membeli Al-Quran, membacanya, memahami maknanya dan mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan kebaikan buatku.’
"Karena Badrun mengatakan itu dengan serius dan khusyuk, si istri memberinya uang. Maka berangkatlah Badrun membeli Al- Quran. Tetapi di tengah jalan, tiba-tiba uang itu terjatuh dari saku celananya yang bolong. Badrun kebingungan. Dia kembali dan berkata pada istrinya, ‘Barangkali Tuhan belum mengizinkan aku bertobat. Uang itu hilang.’ Setelah itu Badrun kembali ke kebiasaannya, berjudi."
Kami yang mendengarkan semua terdiam. Tetapi Abul tak berkata-kata lagi. Dia ngeloyor begitu saja meninggalkan kami.
Malamnya, aku mencoba merenungkan cerita Abul. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa taubat itu datangnya dari nurani yang bersangkutan, bukan dipaksakan. Bila orang telah menemukan jalan taubatnya, apa pun akan dilakukan dan Tuhan akan memberinya petunjuk. Bukan taubat yang disuruh-suruh dan akhirnya mencari berbagai alasan untuk membenarkan diri sendiri.
Suatu ketika Abul juga membuat orang-orang kampung tercenung. Saat suasana sedang ramai-ramainya karena warga kampung tengah memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Ketika sedang istirahat setelah mendengarkan uraian Pak Kiai tentang makna peringatan itu, tiba-tiba seekor anjing besar lewat, dan berhenti di dekat orang-orang yang duduk di emperen musala. Mula-mula mereka tak menggubris. Tetapi ketika anjing itu menyalak dan menjulurkan lidahnya, beberapa wanita mulai ketakutan. Bukan apa-apa, anjing itu anjing liar dan dikuatirkan membawa rabies. Karena itu para wanita segera membaca ayat yang bunyinya; Summum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun…. Tetapi anjing itu tetap saja menggonggong. Tiba-tiba Abul muncul. Dia mengucapkan ayat di atas keras-keras sambil tangannya meraih batu dan melemparkannya ke arah si anjing. Karuan saja anjing itu lari lintang-pukang. Dengan santainya Abul berkata, "Adakalanya doa saja tidak manjur. Seringkali doa harus dibarengi dengan usaha."
Begitu sederhana kalimat itu, tetapi membuat kami semua tercenung. Dan kemudian semua menyetujui ucapan Abul.
Abul adalah lelaki sederhana, yang setiap hari berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya mengobral cerita. Tetapi selalu saja orang-orang menyukainya karena cerita-ceritanya senantiasa mengandung makna yang dalam.
"Kenapa kamu tak bekerja saja?" tanyaku suatu hari.
"Jangan dikira saya tidak bekerja, Mas," sahutnya. "Saya masih sehat, dan kuat. Saya sering ngetem di pasar dan membantu ibu-ibu dengan membawakan belanjaan mereka, dan untuk itu saya mendapat upah. Yah, jadi kuli bongkok. Kalau pun saya senang berkeliling untuk bercerita, itu hanyalah salah satu cara saya mengisi waktu. Saya kan orang bodoh, sekolah pun cuma tamat SD, jadi hanya pekerjaan kasarlah yang bisa saya lakukan."
Aku tersenyum sambil menatapnya.
"Ada sebuah cerita. Mas mau mendengarkan?"
Aku cepat-cepat mengangguk.
"Suatu ketika ada seorang yang cacat kakinya karena suatu kecelakaan dan tak bisa lagi bekerja. Seorang sahabatnya lewat dan menegurnya, ‘Mengapa kamu tidak bekerja? Bagaimana kamu bisa makan bila kamu tak bekerja?’ Orang itu menjawab, ‘Allah Maha Pemurah. Aku tak pernah takut tidak mendapat rezeki-Nya.’ Saat itu melintas di atas mereka seekor burung yang terbang dengan membawa makanan. Kedua orang itu memandanginya hingga di suatu tempat tiba-tiba burung itu menjatuhkan makanannya ke bawah. ketika mereka menengok ke arah bawah, mereka melihat seekor burung lain yang patah sayapnya dan tak bisa terbang. Rupayanya burung yang di atas itu mencarikan makanan buat temannya yang cedera. ‘Lihatlah,’ kata orang itu, ‘bahkan burung kecil yang tak bisa terbang pun tetap bisa makan.’ Si sahabat berkata’ memang benar, burung itu tetap bisa makan meski tak bisa terbang mencari sendiri makanan. Akan tetapi burung yang di atas pasti lebih mulia karena bisa terbang dan mencarikan makanan untuk temannya."
Aku kagum pada cerita Abu. Tetapi Abul sendiri bersikap santai.
"Karena itu, aku harus tetap bekerja untuk mencari rezeki Allah. Aku tidak mau menjadi burung yang hanya bisa menggelepar menanti ada yang membari makanan."
Beberapa hari belakangan ini Abul tidak muncul. Orang-orang di kampung menduga-duga apa yang telah terjadi padanya. Pak Sanu, Ketua RT kami menduga mungkin Abul sedang pulang ke desa asalnya entah di mana itu. Yang lain berpikir Abul sedang berkeliling di kampung lain yang letaknya cukup jauh. Tetapi di atas semua itu, sesungguhnya kami merasa cemas. Entah mengapa Abul telah menjadi bagian dari kami. Abul seperti sesuatu yang telah menyatu dengan jiwa kami sehingga terasa ada yang kurang bila ia tiba-tiba tak muncul.
Aku sendiri mencoba mencarinya di pasar, di tempat dia biasa ngetem. Tetapi ibu-ibu yang selama ini menerima jasanya pun pada kehilangan.
"Abul itu orangnya baik. Diberi berapa pun tak pernah mengeluh," kata salah seorang ibu.
"Betul. Bahkan saya pernah memberinya cuma tiga ratus perak karena cuma segitu uang sisa belanja saya. Padahal belanjaan saya segunung. Dan dia mengeluarkan banyak keringat untuk membawakannya. Tetapi dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih," timpal ibu yang lain.
Aku semakin merasa kehilangan. Sosok Abul yang kurus kering dengan rambut merah dan muka pucatnya semakin nyata mengganggu perasaan kehilanganku. Abul memang bukan siapa-siapa. Dia bukan pejabat, tokoh masyarakat atau selebritis. Tetapi kehadirannya melebihi mereka di dalam satu sudut hatiku. Karena lewat Abul aku telah memperolah banyak pelajaran. Abul, di manakah kamu?
Genap satu minggu sejak ketidakmunculannya, ketika tiba-tiba kudengar berita yang mengejutkan. Abul meninggal dunia!
Berita itu sontak menggegerkan kampung kami. Semua hampir tidak mempercayainya, tetapi Somad, salah seorang tetangga kami yang membawa berita itu, mencoba meyakinkan.
"Benar, aku yakin orang itu Abul. Aku mengenalnya dengan baik."
"Bagaimana dia meninggal?" tanyaku penasaran.
"Kebetulan tadi aku sedang beristirahat di mushola kampung Jetayu. Hari-hari belakangan ini Abul memang berada di kampung itu. Aku baru pulang dari rumah Agus sehabis menjual ayam. Di musholla itu kulihat orang-orang tiba-tiba berkerumun di sumur. Karena penasaran aku ikut melihat. Apa yang terjadi?" Somad memandang kami satu persatu. Kami semua menggeleng dengan penuh rasa cemas.
"Abul sudah tergeletak di sana. Kepalanya berdarah."
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Pak RT dengan terkejut.
"Kata orang-orang di sana, dia terpeleset ketika sedang menimba. Abul menimba air untuk mengisi bak di kamar mandi musholla itu."
Abul meninggal karena terpeleset di sumur ketika sedang menimba air? Betapa sederhananya kematiannya.
"Mungkin geger otak," kata Somad lagi.
"Apakah tidak ada yang mencoba menolongnya?" tanya Umar.
"Orang-orang membawanya ke Puskesmas terdekat, tetapi nyawanya tidak tertolong. Kepalanya memar dan dia banyak mengeluarkan darah."
Orang-orang tertunduk. Aku sendiri tak menyadari airmataku tiba-tiba menetes. Tetapi aku tak ingin menghapusnya. Tak perlu malu. Abul adalah bagian dari kehidupan kami. Abul adalah sosok yang tanpa disadarinya telah banyak membawa kesadaran di hati kami. Kesadaran akan hidup dan makna kehidupan. Abul begitu berharga bagi kami. Tetapi Allah telah memangilnya, dengan cara yang begitu sederhana. Sesederhana pikiran-pikiran Abul, cerita-cerita Abul, namun senantiasa mengandung makna yang dalam.
Atas kesepakatan bersama, jenazah Abul dikuburkan di kampung kami, dan kami semua mendoakan kepergiannya dengan tulus.
Ketika meninggalkan makam Abul, aku ingat kata-katanya tentang kematian, "Seperti pintu yang terbuka setiap waktu, dan semua orang harus melewatinya. Tetapi hanya orang-orang yang dicintai Allah yang merasakan kematian sebagai perjalanan yang indah menuju keabadian."

sumber : Annida